26 Juni 2021
By : Hendrik Yulianto
Lukas 7:9
A. PENGANTAR
Dalam Kitab Perjanjian Baru tidak banyak perkataan manusia yang membuat Tuhan sampai heran/kagum, salah satunya adalah perkataan dari seorang perwira romawi yang hambanya sedang sakit keras. Jika kita baca dan renungkan kisahnya dalam Lukas 7:1-10, kita bisa menemukan kenapa Tuhan Yesus sampai heran dengan perkataan perwira itu. Ada beberapa hal dari perwira ini yang sangat mengagumkan. Pertama (Luk 7:2), dia sangat menghargai hambanya dan menyayanginya. Padahal hamba yang dimaksud disini adalah budak (bahasa aslinya doulos) yang artinya adalah orang yang tidak punya lagi hak atas hidupnya. Seseorang yang menyerahkan dirinya pada kehendak orang lain. Jika itu asisten pribadi mungkin masih bisa kita mengerti jika perwira itu begitu menghargainya. Kedua (Luk 7:5), dia mengasihi orang-orang Yahudi yang sebenarnya adalah bangsa yang sedang dia jajah. Di bahkan membangunkan rumah ibadah mereka mengunakan uangnya sendiri. Sikapnya berbanding terbalik dengan seorang penjajah yang biasanya memeras rakyat dari negeri yang dia jajah. Dan para tua-tua (pemimpin Yahudi) mengkonfirmasi kebaikan perwira ini dengan meminta dengan sangat kepada Tuhan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Ketiga (Luk 7:3,6), dia adalah seorang yang rendah hati dan tau diri. Dia merasa tidak layak menerima Tuhan Yesus dirumah nya (kemungkinan karena dia merasa bersalah dan tidak layak karena dia adalah penjajah sedangkan Tuhan Yesus adalah berkebangsaan Yahudi, negeri yang sedang dia jajah). Sehingga dia mengirim 2 lapis orang untuk menemui Tuhan, lapis pertama dia mengutus para tua-tua Yahudi untuk menemuiNya.

Lapis kedua dia mengutus sahabat-sahabatnya (orang terdekatnya dan dipercayai). Padahal kalau dia mau, dia bisa saja mengirim para prajuritnya untuk menemui Tuhan Yesus. Keempat (Luk 7:6), dia orang yang sangat sopan. Dia tidak mau Tuhan Yesus bersusah-susah datang kepadanya. Dia tidak mau membuat Tuhan repot. Kelima (Luk 7:8), dia orang yang sangat percaya kepada Tuhan. Dia orang yang mempunyai iman. Dan ini dikonfirmasi oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa Dia tidak pernah menemukan iman sebesar yang dimiliki oleh perwira itu diantara orang Israel.
Jadi bisa kita tarik pelajaran bahwa perwira tersebut adalah seseorang yang mempunyai karakter yang sangat baik, apalagi untuk ukuran seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dan seorang penjajah yang seharusnya bisa berbuat apa saja kepada orang yang dia jajah. Tidak heran jika Tuhan Yesus sampai kagum dengan perkataan perwira tersebut.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca kembali Lukas 7:1-10 dan temukan pelajaran-pelajaran berharga yang mungkin saja belum tersampaikan pada pengantar diatas.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Dari kisah perwira tersebut kita bisa belajar dan renungkan bahwa Perkataan iman bukan hanya terletak pada besarnya kepercayaan seseorang akan kuasa Tuhan, tapi terletak pada besarnya kerendahan hati seseorang. Perwira ini tidak mau Tuhan bersusah-susah menolong dia. Seringkali kita berlaku tidak patut dan cenderung kurang ajar kepada Tuhan. Karena selain kita tidak rendah hati kita juga seolah-olah hanya bisa merepotkan Tuhan. Seringkali kita ingin Tuhan cepat menolong persoalan kita, belum lagi bicara tentang caranya yang seringkali seperti orang yang memaksa. Kita memaksa Tuhan menjawab seperti kemauan kita bukan seperti kemauan Tuhan. Harusnya kita bisa belajar dari perwira tersebut, bagaimana dia sangat sopan meminta Tuhan menyembuhkan hambanya. Perwira itu tidak meminta Tuhan mengatakan kata-kata “sembuh”, hanya meminta Tuhan berkata-kata saja. Itu artinya perwira itu siap dengan apapun yang Tuhan akan katakan. Tuhan mau katakan “sembuh”, atau Tuhan mau katakan “mati” itu terserah Tuhan.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Mari kita terus belajar untuk memiliki karakter yang baik. Orang yang mengasihi sesamanya tanpa pandang bulu. Orang yang rendah hati. Orang yang sangat sopan kepada sesama apalagi kepada Tuhan. Dan orang yang memililki iman kepada Tuhan. Iman artinya menyerahkan segala sesuatu kepada kehendak Tuhan. Iman bukanlah membayangkan apa yang kita ingini dan kemudian meminta Tuhan menjawabnya. Tapi iman adalah mempercayakan diri kita kepada Tuhan sepenuhnya, sama seperti Abraham menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan sekalipun sepertinya apa yang Tuhan kehendaki itu bertentangan dengan situasi, kondisi dan mungkin akal manusianya. Dan seharusnya perkataan-perkataan kita adalah perkataan-perkataan yang akan membuat Tuhan heran. Bukan karena puitis dan bagusnya kata-kata kita, tetapi karena ada kehidupan yang mengherankan Tuhan dibalik kata-kata itu.
Jika kita mengerti semua ini, maka seharusnya kehidupan doa kita akan berubah. Amin!
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Saling bersaksilah bagaimana pergumulan dan perjuangan saudara untuk memiliki karakter yang baik.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

