31 Agustus 2021
By : Hendrik Yulianto
Mazmur 119:106
A. PENGANTAR
Menghormati Tuhan berarti serius berusaha menepati setiap janji dan komitmen kita kepada Dia.
Kita pasti sudah sering mendengar lagu dengan penggalan liriknya seperti berikut :
KU IKUT KEHENDAK-MU, KU PERLU ANUG’RAH-MU, KU NYATAKAN JANJIKU KEPADA-MU
Reff :
KALAU KU HIDUP, KU HIDUP BAGI-MU, HATIKU TETAP, TETAP MENYEMBAH-MU
DUNIA TAK BISA MENJAUHKANKU DARI KASIH-MU
S’LAMA KU HIDUP, KU HIDUP BAGI-MU, MATAKU TETAP, TETAP MEMANDANG-MU
DUNIA TAK BISA MENJAUHKANKU DARI KASIH-MU
Lagu tersebut cukup menarik karena bukan saja enak dinyanyikan tapi juga karena liriknya cukup jarang ada dilagu-lagu rohani yang lain. Lagu tersebut liriknya berisi janji atau komitmen kita kepada Tuhan. Sementara banyak lagu-lagu rohani lain yang liriknya lebih kepada mengajak untuk meyakini atau memegang janji Tuhan kepada kita.
Seringkali kita begitu bersemangat jika didorong atau diminta untuk meyakini janji Tuhan kepada kita seolah-olah dengan semangat dan antusias yang begitu rupa terhadap janji Tuhan maka janji itu akan digenapi. Padahal janji Tuhan digenapi atau tidak bukan tergantung kepada semangat dan antusias kita. Ya karena Dia Tuhan, bukan manusia. Apa yang Dia janjikan dan ucapkan pasti akan digenapi apapun keadannya (Bilangan 23:19). Setiap perkataanNya tidak akan kembali dengan sia-sia. Intinya, janji Tuhan tidak perlu diragukan lagi. Jika kita meragukanNya berarti kita sedang tidak menghormati Dia.
Lalu bagaimana dengan janji atau komitmen kita kepada Tuhan? Ini yang seringkali kita lupa. Kita begitu bersemangat memegang/meyakini janji Tuhan tapi seringkali abai dan lupa terhadap janji atau komitmen kita kepada Dia. Seringkali kita melanggar atau tidak menepati komitmen kita kepada Tuhan.

Kita bersembunyi dibalik pengertian kita bahwa Tuhan pasti mengampuni, Tuhan pasti melupakan, Tuhan pasti memaklumi, dst. Seringkali kita tidak pernah benar-benar serius” untuk bisa memenuhi komitmen kita kepada Tuhan. Disatu sisi kita begitu menuntut kepada Tuhan dengan janjiNya, tapi disisi lain kita tidak pernah benar-benar memposisikan diri kita untuk mau dituntut oleh Tuhan terkait komitmen kita kepada Tuhan. Pernahkah kita berani mengatakan kepada Dia “Tuhan tuntutlah aku dengan segala komitmen atau janji yang pernah aku buat untuk Mu?”. Harusnya jika kita berani menuntut janjiNya, maka kita juga harus berani dituntut oleh Dia terkait dengan janji atau komitmen kita. Janji atau komitmen kepada sesama kita saja kita akan lakukan dan tepati, karena kita menghormati orang itu dan juga ini menyangkut kredibilitas kita. Apalagi janji atau komitmen kita kepada Tuhan. Pastinya harus kita tepati dan lakukan. Jika kita tidak menepatinya maka sebenarnya kita sedang memandang rendah Dia dan tidak menghormatiNya.
PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca Mazmur 119:106 dan temukan apa yang akan dilakukan oleh pemazmur terhadap janji/sumpah yang telah dia ucapkan kepada Tuhan?
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Mari renungkan bahwa tentunya dari awal kita mengalami pertobatan, kita sudah banyak menyampaikan janji atau komitmen kita kepada Tuhan. Kita berkomitmen untuk mentaati Dia, melakukan apa yang Dia firmankan, dan hidup sesuai dengan kehendakNya. Tapi karena terlalu seringnya kita membuat komitmen, tanpa sadar kita menganggap itu hanyalah doa atau ucapan yang biasa-biasa saja. Kita tidak serius menganggap bahwa itu komitmen yang harus dipenuhi. Yang lebih parah lagi, kita tidak benar-benar serius berusaha untuk memenuhi komitmen kita itu.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Mari ingat kembali komitmen atau janji-janji yang pernah kita buat kepada Dia. Baik komitmen secara umum yang sering kita ucapkan dalam doa-doa kita ataupun komitmen secara khusus yang pernah kita ucapkan kepada Dia. Jika kita belum menepati komitmen-komitmen tersebut, mari mulai hari ini kita serius berusaha untuk menepatinya.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Diskusikan dan ceritakan dengan saudara seiman/teman komsel poin-poin yang anda dapatkan dari renungan hari ini.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

