13 September 2021
Penerbit : Dept. Pengajaran GKKD Bogor
Yakobus 1:26 TB
Dalam minggu ini kita akan sama-sama belajar tentang Ibadah yang Sejati, bagaimana mempraktekkan Kehidupan Beribadah yang menyembah dan melayani Tuhan dengan sikap hati yang penuh hormat dan penundukan diri dan penuh kasih kepada Allah.
Kata “Ibadah” merupakan terjemahan dari istilah bahasa Ibrani dalam Perjanjian Lama (PL) disebut: ‘AVODAH atau ‘ABODAH’ yang diserap kedalam bahasa Indonesia yang artinya menurut kamus KBBI adalah: Perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan kata “Sejati,” menurut kamus KBBI artinya adalah sebenarnya (tulen, asli, murni, tidak ada campurannya), kodrati, sejati.
Jadi, “Ibadah yang sejati” adalah suatu aktivitas menyembah dan dan melayani Allah sesuai prinsip Firman Tuhan dalam sikap hati yang penuh hormat, penundukan diri yang dilandasi oleh “kasih dan penghormatan kita kepada Tuhan” pada saat kebaktian, komsel, doa, berkeluarga, mengelola keuangan, mendidik dan membesarkan anak2, dll, dan saat bekerja, berusaha, sekolah kita menjadi garam dan terang di segala bidang kehidupan kita.

MENEMUKAN (M1):
~ Yakobus 1:26 TB, Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
Pertanyaan:
- Bagaimanakah seseorang menipu dirinya sendiri?
- Hal apa yang membuat ibadah menjadi sia-sia?
MERENUNGKAN (M2)
Sebagai umat Tuhan kita harus terus belajar agar semakin beribadah dalam prinsip Ibadah yg sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, kita beribadah menyembah Allah, mengenal melalui pengalaman bergaul karib dan intim dengan penuh kasih, kita bersekutu dengan Allah Pencipta kita.
Menurut tafsiran Yakobus 1:26 di Sabda.org, ada 3 hal yang membuat Ibadah menjadi “sia-sia,” yaitu:
- Lebih peduli untuk “tampak saleh” menurut pandangan manusia daripada saleh yang sebenarnya.
- Mudah “membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain, merendahkan hikmat dan kesalehan orang-orang di sekitarnya,” supaya ia sendiri bisa tampak lebih bijak dan lebih baik.
- Menipu hatinya sendiri, dengan mengecilkan orang lain dan menjadikan dirinya tampak seperti orang hebat.

MELAKUKAN (M3):
Dari “3 hal yang membuat Ibadah menjadi “sia-sia,” dalam hal apakah kita harus menjaga agar ibadah kita tidak menjadi sia-sia? Mari sebutkan menurut pandangan saudara.
MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakanlah pengalaman saudara bagaimana terus bertumbuh dalam prinsip-prinsip Ibadah yang sejati.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

