Minggu – Janji Tuhan sebagai Iman Untuk Bersyukur

26 September 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Kejadian 45:4-5

A. PENGANTAR

Kisah Yusuf, salah satu anak Yakub, menjadi teladan yang sangat baik di dalam kehidupan yang selalu dipenuhi dengan perkataan dan tindakan untuk mengucap syukur. Kebesaran dan kemahakuasaan Allah telah terbukti, bukan saja menyelamatkan hidup Yusuf dari penderitaan jiwani dan jasmani, tetapi juga telah membawa Yusuf masuk dalam perjalanan panggilan hidup dan mencapainya di Tanah Mesir.
Iman sejak usia remaja telah dijadikan dasar berharap dan bertindak bagi Yusuf , sampai di posisi puncak sebagai penguasa di Tanah Mesir.

Iman sebagai ungkapan nyata terhadap janji Tuhan, telah menguatkan karakter dan kerohanian Yusuf. Sekalipun di dalam pengalamannya , Yusuf berhak berkata, semua karena perilaku buruk kakak-kakak Yusuf sehingga Yusuf mengalami perjalanan pahit sebagai seorang remaja dan sampai tiba di Mesir, negeri asing yang tidak bersahabat dengan dirinya. Namun sekali lagi, iman Yusuf selalu menyelamatkan lidahnya dari kesempatan untuk bersungut-sungut dan memberikan kritik pedas kepada Allah, sehingga sampaipun pada saat kehadiran saudara-saudaranya yakni anak-anak Yakub di Mesir, tatkala mereka meminta bantuan bahan makanan kepada Yusuf. Respon yang sangat rohani dan dewasa ditunjukkan kepada saudara-saudara Yusuf pada waktu itu. Perkataan yang keluar dari mulut Yusuf, adalah bukti kemuliaan Allah yang bersinar terang dan nyata di dalam kehidupan Yusuf dan tatanan kehidupan rakyat Mesir pada waktu itu.

Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (TB, Kejadian 45:5).

Iman yang teguh kepada janji Tuhan, akan menuntun kita kepada penempatan cara pandang yang benar dan rohani terhadap permasalahan di dalam kehidupan kita. Tidak ada urusan dengan permasalahan, tetapi yang perlu kita benahi adalah kedewasaan melihat permasalahan sebagai lompatan pertumbuhan keimanan mengikuti Yesus. Ketika proses ini menjadi kebiasaan rohani untuk berespon, maka kita akan membangun dan menghasilkan kebiasaan selalu mempermuliakan Allah dengan sikap dan perkataan kita. Ketahuilah, tidak ada kekuatan di dunia yang melebihi kekuatan Allah. Setiap permasalahan akan menuntun kepada solusi, tatkala hati dan mulut kita selalu bersyukur dan memuliakan Allah.

B. PEMBELAJARAN

B.1. MENEMUKAN (M1)

Bacalah : Kejadian 45:4-5

  1. Apakah yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya? (ayat 4)
  2. Untuk apakah Yusuf berada di Mesir? (ayat 5)

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Seberapa teguhkah iman Anda hari ini? Seberapa kuat iman Anda sehingga berdampak pada munculnya kekuatan untuk selalu mempermuliakan Tuhan di masa sukar dan senang? Bagaimana Anda memahami cara pandang Yusuf terhadap perilaku saudara-saudara Yusuf yang pernah berbuat jahat?

B.3. MELAKUKAN (M3)

Mari, bangunlah kebiasaan rohani dengan memiliki cara pandang bahwa “hidupku adalah milik Allah. Aku adalah hambaNya”, sehingga seyogyanya kita dimampukan untuk selalu bersyukur dan memuliakan Allah dengan hati dan mulut kita.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saatnya terus mengatakan kuasa firman Allah ketika Anda mengalami kemenangan atas sakit-penyakit, kekurangan atau kekecewaan hati. Saksikanlah kepada orang lain, bahwa DIA lah Allah yang selalu layak dimuliakan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47