SELASA – MENJADI KUDUS BUKANLAH PILIHAN

14 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Yesaya 6:5-7

A. PENGANTAR

Allah adalah Kudus (Yesaya 6:3), sebagaimana sifatNya yang menjadi identitasNya. Itu sebabnya sebagai ciptaanNya, manusia seyogyanya memiliki Pola pikir manusia haruslah pola pikir Allah tentang kekudusan. Sebagai Sifat Allah, maka bagi setiap orang yang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan, sifat Kudus dari Allah haruslah menjadi sifat pengikutNya, bukan sebagai satu pilihan. Yang sulitnya, adalah bagi orang yang belum menjadi pengikut Kristus Yesus, maka Allah memiliki cara tegas dan mutlak agar setiap orang yang ingin mengenal Allah dari latar belakang hidup berdosa, dapat melihat dan melayaniNya. Yesaya yang berlatar belakang bukan pengikut Allah, namun Allah yang kudus menetapkan standar untuk Yesaya agar berikutnya Yesaya dapat dipakai menjadi pelayanNya. Gambaran tentang keharusan hidup kudus, sebagaimana sifat Allah demikian, ditunjukkan dengan cara Allah melalui Malaikat dengan menyentuhkan bara api ke bibir Yesaya. Tindakan Allah yang tegas menolak kenajisan tetap ada tatkala seseorang mau melayani Dia. Tidak ada kata-kata kompromi dari Allah kepada Yesaya. Itulah arti kekudusan sebagai keharusan.

Dalam kehidupan seorang Kristiani, hidup kudus, adalah proses dinamis yang seharusnya dialami oleh anak-anak Tuhan, sebagai kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:24). Bahkan Rasul Paulus menasehatkan kepada jemaat di Ibrani, kekudusan itu haruslah dikejar, karena tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14).

Arti kata kejarlah mengacu pada kata aktif dan kata kerja. Ini adalah menjadi takdir ilahi bagi anak Tuhan, yang telah dipenuhi oleh Roh Allah dan berjalan dalam pimpinan Roh Kudus (Roma 8:5-7). Jadi keharusan hidup kudus, dimulai dari satu cara pandang di dalam pola berpikir, yakni, sifat kekudusan menjadi standar yang mutlak ada dalam diri anak-anak Tuhan. Seiring dengan kuasa Roh Kudus, maka gaya hidup kudus seyogyanya terjadi dalam diri anak-anakNya. Pikiran yang suci atau kudus, akan menciptakan perasaan yang suci, selanjutnya menciptakan keinginan suci yang bermuara pada terbentuknya tindakan-tindakan yang benar. Pikiran yang suci akan menciptakan karya suci di tenga dunia, di dalam bidang-bidang yang saat ini Anda geluti.

B. PEMBELAJARAN
B.1. Menemukan

Bacalah : Yesaya 6:5-7
1.Apakah yang dikatakan Yesaya tentang dirinya? (ayat 5)
2.Apakah tindakan Allah dalam mengampuni dosa dan kesalahan Yesaya?

B.2 Merenungkan

Bagaimana menurut Anda tantang cara unik Allah menyucikan Yesaya? (lihat Yes 6:6-7)
Bagaimana cara Tuhan menyucikan diri Anda? Cobalah merenungkannya!

B.3. Melakukan

Perubahan kebiasaan diri dari kebiasaan buruk (tidak suci) menjadi suci secara praktis, adalah bagian anak-anak Tuhan (Ibr 12:14). Mulai dari diri Anda.

B.4. Membagikan

Ceritakanlah pengalaman sifat Allah yang Kudus terjadi dalam diri Anda.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47