Rabu – Warisan Kekudusan untuk Gereja

15 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Yohanes 17:17-19

A. Pengantar

Allah adalah kudus, artinya Ia bebas terhadap dunia. Ia menguduskan manusia, artinya memilih mereka sehingga menjadi milik-Nya. Orang-orang kudus ialah orang-orang yang dikuduskan oleh Roh Kudus sehingga mereka tidak lagi “dari dunia ini” ( Yoh 17:14-19). Dalam surat-surat rasul Paulus “orang-orang kudus” berarti: orang-orang Kristen. Secara hukum rohani, setiap orang yang telah mengalami kuasa penebusan Yesus Kristus untuk orang berdosa, adalah orang yang menerima warisan kesucian dariNya. Warisan itu tertanam kuat di dalam hati orang Kristen dan siap untuk terwujudkan di dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, diperlukan satu keputusan untuk menggunakan warisan tersebut oleh anak-anak Allah sebagai ahli waris. Ibarat harta benda yang diwariskan dari seorang ayah kepada anaknya, tatkala warisan itu dikukuhkan dengan satu surat wasiat, maka secara hukum sudah sah bahwa semua harta benda yang diwariskan kepada anaknya telah menjadi miliki anak tersebut. Selanjutnya ada kebebasan dalam hidup anak tersebut untuk menggunakan semua harta warisannya, apakah dapat dipergunakan dengan baik dan bijaksana atau sebaliknya.

Melalui firmanNya, yakni janji dan penggenapan penebusan (Roma 10:9-10) dan pertolonganNya dalam diri anak-anakNya untuk selalu berusaha hidup dalam kekudusan (Ibrani 12:14), setiap anak Tuhan sudah menerima surat warisan kekudusan. Selanjutnya ada tantangan bagi anak-anakNya untuk menggunakan hak warisan itu dengan baik atau tidak sama sekali. Hal ini berbicara tentang bagaimana seorang anak Tuhan membangun hidupnya kini di setiap waktu dan keadaan. Pondasi kesucian adalah Kristus Yesus, sedangkan yang membangun hidup adalah anak-anakNya di atas pondasi tersebut. Dengan apakah Anda membangun hidup? Apakah dengan materi yang tidak tahan uji dalam badai atau sebaliknya? (Perhatikanlah I Korintus 3:10-15).

Apakah firmanNya sebagai surat warisan sejati akan digunakan sebagai satu-satunya standar hidup kudus? Apa yang disebutkan dalam Yohanes 17:17-19 berisi pesan dari Tuhan Yesus kepada pengikutNya yakni “… dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:19). Kebenaran menjadi sumber kesucian, dalam pemikiran, perasaan dan perbuatan kita sehingga totalitas hidup kita terpisahkan dari dunia tetapi tetap hidup di dunia. Perbedaan pola pikir dan pola tindak tidak berarti menjauhi orang-orang di dunia, tetapi ini tentang hidup totalitas dalam kebenaran firmanNya untuk menjadi agen kekudusan bagi dunia yang patut dicontoh.

B. PEMBELAJARAN
B.1. Menemukan

Bacalah : Yohanes 17:17-19
1.Dalam apakah murid-muridNya dikuduskan? (ayat 17)
2.Yesus dikuduskan bagi mereka, supaya mereka…… (Ayat 19)

B.2. Merenungkan

Kesalehan palsu yakni mempertahankan hidup suci karena motivasi takut berdosa, adalah hidup suci yang tidak konsisten dan tidak tahan uji. Sebab konsistensi hiduop suci hanyalah karena kebenaran firmanNya. Bagaimana pendapat Anda?

B.3. Melakukan

Nilai sukses Anda dalam semua bidang, jikalau dimulai dari setiap kebenaran Allah. Tetapkanlah dasar dan standar keputusan Anda dalam segala hal.

B.4. Membagikan

Ceritakanlah dan tunjukkan realitas kekudusan hidup Anda kepada orang-orang yang membutuhkan penjelasan tentang kekudusan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47