SENIN – SEBUAH PARADOKS

27 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Mazmur 96:4-13, Lukas 2:7-8, Lukas 22:26-27, Matius 23:11, Matius 18:4

A. PENGANTAR

Paradoks menurut KBBI adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.
Natal adalah sebuah paradoks, kenapa? Karena apa yang dilakukan Allah melalui rencana kelahiran Yesus di kota kecil Betlehem di sebuah bangsa yang sedang dijajah Romawi, disebuah kandang hina, didalam sebuah palungan tempat makanan hewan dan melalui seorang wanita yang masih muda dan perawan adalah sebuah hal yang bertentangan dengan pendapat orang pada umumnya bukan hanya dijaman itu tapi juga dijaman ini. Karena seorang Raja harusnya lahir di istana yang mewah, dikelilingi banyak tabib dan perawat yang siap menjaga kesehatan si bayi maupun ibunya, diselimuti dengan kain yang hangat dari sutra dan berita kelahirannya harusnya menjadi kegembiraan seluruh istana dan semua rakyat. Bukan hanya bertentangan dengan pendapat umum, juga kelahiran Yesus seperti bertentangan dengan gambaran Allah yang sebelumnya digambarkan didalam perjanjian lama. Didalam perjanjian lama, Allah seringkali digambarkan sebagai pribadi yang superior, tidak ada pribadi lain sehebat Allah Israel, Dia Yahweh, yang lebih hebat dari dewa/allah manapun. Perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir adalah gambaran nyata Dia adalah Allah yang superior, hebat, dahsyat, dan tak tertandingi.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Mazmur 96:4:13 dan temukan poin-poin dimana Allah Yahweh digambarkan sebagai Allah yang superior atau luar biasa !
Baca juga Lukas 2:7-8 dan temukan poin-poin adakah Yesus yang baru lahir terlihat seperti pribadi yang superior? Apakah Dia lahir di tempat yang layak dengan fasilitas yang wah? Apakah kelahirannya diberitakan kepada seluruh rakyat?
Kemudian baca juga Lukas 2:7-8, Lukas 22:26, Matius 23:11, Matius 18:4 dan temukan apa yang Yesus ajarkan untuk seseorang menjadi orang yang besar?

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Dunia mengajarkan kita bahwa orang-orang yang punya kedudukan tinggi, atau mempunyai kekayaan yang banyak, atau juga memiliki gelar yang panjang lah yang biasanya dihormati atau disegani. Filosofi atau pandangan ini begitu kuat mengakar dalam kehidupan manusia dimanapun dan kapanpun jamannya. Sehingga manusia pada umumnya mengejar kedudukan, kekayaan dan gelar agar bisa disegani, dihormati dan bisa dibanggakan. Hidupnya disia-siakan demi mengejar semuanya itu. Bahkan tidak kita pungkiri, sebagai orang Kristen pun seringkali kita masih mengejar dan masih mengukur keberhasilan dan kesukesan dengan semuanya itu.

Namun hari ini kita belajar sebuah paradoks yang sebenarnya memuat pelajaran yang begitu penting dan berharga. Yesus mengajar kita bahwa untuk menjadi orang yang besar, disegani, dihormati, kita malah harus menjadi yang terkecil, malah harus melayani bukan dilayani, malah harus menjadi yang termuda (seperti seorang junior daripada senior). Yesus bukan hanya omdo, tapi Dia juga membuktikannya dengan kelahiranNya sebagai seorang manusia, dimana dikatakan bahwa dalam segala hal Dia disamakan seperti kita, dari mulai Dia kecil Dia harus belajar sama seperti anak-anak yang lainnya, Dia bekerja sebagai seorang tukang kayu, Dia makan dan minum, merasakan lapar dan sakit, menderita, bahkan mati sama seperti kita. Yesus sebagai Putera Tunggal Allah, sebagai gambaran Allah yang kelihatan telah menunjukkan kepada kita bahwa Allah yang superior yang digambarkan diperjanjian lama adalah juga Allah yang mau merendahkan diriNya demi kita, mau berkorban bagi kita, mau dan tidak risih ketika terlihat sepertinya lemah, hina bahkan tidak berdaya. Seringkali banyak orang khususnya orang-orang yang menyerang iman Kristen menganggap kelahiran Tuhan sebagai manusia dalam wujud Yesus adalah sebuah celah kelemahan dalam iman Kristen. Padahal jika mengerti, justru ini adalah kekuatan dalam iman Kristen. Tidak ada allah diagama manapun yang mengajarkan bahkan membuktikan tentang kerendahan hati, melayani bukan dilayani, menjadi yang terkecil daripada terbesar. Ini hanya ada dalam kekristenan! Tidak ada allah manapun yang mau menjadi manusia demi untuk menyelamatkan manusia. Kebanyakan allah diagama-agama lain digambarkan sebagai sosok yang superior dan hebat dan tidak jarang penganutnya akan marah jika allahnya dihina apalagi jika sampai allahnya terlihat lemah.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Jika hari ini kita masih mengukur kesuksesan dan keberhasilan dengan cara pandang yang salah, mari kita berubah dan bertobat. Demikian juga jika kita masih memenuhi pikiran dan tujuan hidup kita hanya untuk mengejar kesukesan hanya demi dipandang atau dianggap orang hebat atau berhasil, kita juga harus berubah dan bertobat. Sebaliknya kita harus mulai belajar memiliki sikap yang Tuhan Yesus ajarkan, dalam segala hal kita belajar melayani bukan dilayani, menjadi yang terkecil dan menjadi yang termuda. Seharusnya tidak masalah kalau dimata manusia kita terlhat lemah, tidak berdaya, asalkan dimata Allah kita terlihat besar karena memiliki hati dan sikap yang besar. Kita buang sikap sikap yang tidak berkenan kepada Allah. Tidak menggantungkan kehormatan dan harga diri dari barang-barang yang sementara. Kita buang sikap arogan, jangan kita seperti orang dunia pada umumnya yang naik kendaraan bagus sedikit sikapnya dijalan tidak pantas, tidak menghormati orang lain, arogan. Jangan kita merasa lebih baik dari orang lain hanya karena rumah kita lebih besar, atau barang-barang yang kita miliki adalah barang-barang branded. Atau kita merasa menjadi orang yang lebih diistimewakan Tuhan karena kita merasa bisa mendengar suara Tuhan atau kita sudah memimpin komsel, berkhotbah, memimpin pujian, bermain musik, menjadi pendoa, dll.

Dengan memiliki hati yang melayani, bersedia menjadi yang terkecil, menjadi yang termuda, kita sedang membesarkan nama Tuhan (magnify the Lord) dengan tindakan dan hidup kita. Membesarkan atau memuji nama Tuhan bukan hanya karena dia Allah yang hebat dan superior, tapi juga karena Dia Allah yang mau merendahkan dan mengorbankan diriNya bagi kita.
Biarlah paradoks ini menjadi pengingat seumur hidup kita ketika dalam perjalanan hidup, kita merasa sikap kita sudah menjadi arogan, merasa lebih wah dari orang lain hanya karena kita punya kedudukan, kekayaan, dan kemampuan diatas orang lain.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saling diskusi dan bersaksilah dengan rekan komsel atau pelayanan bagaimana engkau mau untuk hidupmu bisa meneladani apa yang Yesus ajarkan mengenai menjadi seorang yang besar dimata Allah.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47