SELASA – DARI DALAM MENUJU KE LUAR

28 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Matius 5:3-16

PENGANTAR

Kita percaya bahwa Tuhan itu luar biasa sempurna hikmat dan kecerdasan-Nya. Termasuk setiap FT yang tertulis didalam Alkitab itu semuanya bukan hanya tersusun dengan baik tapi juga setiap kata, kalimat dan susunannya mempunyai maksud dan tujuan. Termasuk dalam perikop Ucapan Bahagia yang disampaikan Yesus di Matius 5. Pasti urutan-urutan ucapan bahagia yang Yesus sampaikan tidak asal. Dan jika kita baca Matius 5:9 tentang orang yang membawa damai, ini didahului dengan ayat 8 yaitu “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”. Yang artinya jika kita sambungkan dengan ayat 9, kita menemukan sebuah pola bahwa Yesus menekankan/mengajarkan pertama sesuatu yang ada di dalam yaitu kesucian hati, baru setelah itu bergerak keluar yaitu membawa damai. Dan sebetulnya jika kita baca lengkap Matius 5:3-15 kita mendapati juga sebuah pola yang sama, yaitu diawal-awal ucapan bahagia, Yesus mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan hati yang ada didalam, lalu kemudian diakhir-akhir Yesus mengajarkan hal-hal yang bergerak keluar.
PEMBELAJARAN

B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Matius 5:3-16 dan temukan ayat-ayat mana saja dimana Yesus berbicara tentang sesuatu yang ada didalam dan ayat mana yang berbicara tentang bergerak keluar !

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Pola Ucapan Bahagia yang disampaikan oleh Yesus mengajarkan kita beberapa hal :
Pertama, bahwa kita tidak akan bisa menjadi seorang pembawa damai yang dimaksudkan oleh Tuhan jika kita tidak memiliki hati yang suci. Hati yang suci adalah hati yang telah dibersihkan dari daging (bersih dari dosa) , dan sifat keakuan (mementingkan diri sendiri). Karena sudah tidak ada lagi keakuan maka pengabdian dan dedikasinya kepada Tuhan tidak lagi menjadi terbagi-bagi sehingga dia bisa fokus melakukan perintah dan kehendak-Nya. Orang yang suci hatinya adalah orang yang mengasihi Allah dengan segenap hatinya dan melakukan kehendakNya. Dan apakah kehendakNya itu? yaitu supaya kita menjadi orang yang membawa damai.

Kedua, bahwa seorang Kristen yang sejati bukanlah seseorang yang mementingkan diri sendiri dan terfokus pada dirinya sendiri. Bukan orang yang terlalu memperhatikan kekudusan dan kebenaran dirinya sendiri sehingga lupa dengan dunia dan keadaan disekelilingnya. Kekudusan bukanlah sesuatu yang didalam seolah-olah kita dapat hidup terpisah dari orang lain, mengunci diri atau menyendiri dan menjadi kudus dalam diri kita sendiri. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kekudusan dan kebenaran yang Dia maksud bukanlah kekudusan yang dicapai dengan cara memisahkan diri dari orang lain dan tidak bergaul dengan mereka. Melainkan yang Dia maksud adalah kekudusan yang bergerak keluar sama seperti terang menembus kegelapan dan seperti garam yang selain bisa dirasakan juga berfungsi menjaga dari kerusakan (busuk). Dengan cara apa kekudusan itu keluar? Dengan cara kita membawa damai kepada semua orang.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Jadi pertama-tama kita harus memastikan bahwa hati kita bersih dan suci baru kita bisa menjadi seorang pembawa damai. Kekeliruan yang seringkali terjadi adalah, orang menganggap bahwa kesucian itu ada didalam hati dan artinya itu bukan sesuatu yang praktis. Padahal kesucian itu adalah sesuatu yang praktis, karena suci dalam hati itu berarti suci dalam semuanya baik dalam tindakan dan perkataan. Kesucian dalam hati harus diekspresikan dalam segala tindakan dan perkataan. Kesucian dalam hati pasti dinyatakan oleh tangan yang bersih yaitu tidak melakukan hal-hal yang berdosa. Kesucian hati juga akan diungkapkan dalam kejujuran dalam tutur kata bahwa apa saja yang kita ucapkan adalah benar.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Diskusikan dan ceritakan dengan rekan komsel/pelayanan bagaimana pemahamanmu tentang renungan hari ini dan rencana untuk melakukannya.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47