30 Desember 2021
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Amsal 10:11, Galatia 2:11-21
A. PENGANTAR
Kita harus pahami bahwa membawa damai bukan berarti kita berkompromi. Bukan berarti demi damai maka apapun dikorbankan termasuk kebenaran. Bukan berarti lalu kebenaran menjadi tidak terlalu penting, tapi damailah yang penting. Bukan seperti itu! Damai dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Dimana ada kebenaran pasti ada damai. Tapi ingat damai yang dimaksud bukan lah damai ditingkat sosial dan politik, tapi damai di tingkat rohani. Karena bisa saja ketika kebenaran disampaikan, akan terjadi gejolak secara sosial bahkan politik. Bisa saja gejolak terjadi dan hubungan menjadi tegang antara orang tua dengan anaknya, adik dengan kakaknya, suami dengan istrinya, pemimpin dengan yang dipimpin, dst.
Inilah yang dimaksud Yesus ketika Dia mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang atau pertentangan (Matius 10:34, Lukas 12:51). Lho bukankah Dia disebut Raja Damai? (Yesaya 9:6) tapi kenapa Dia sendiri menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan? Karena Dia datang untuk menyatakan kebenaran dimana kebanyakan orang tidak suka dan dapat menimbulkan pertentangan ketika kebenaran disampaikan, dan juga damai yang Dia maksud adalah damai secara rohani yaitu perdamaian dengan Allah yang pasti akan mengubahkan hati manusia.
Kita banyak temui di Alkitab Perjanjian Baru, betapa kerasnya Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang dijaman itu adalah orang-orang yang taat beragama dan orang-orang yang dihormati. Seperti contoh yang bisa kita baca adalah di Matius 23, dimana isi dari pasal ini adalah kecaman Yesus yang sangat keras kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dan sering kita baca juga setelah Yesus menyampaikan kecamannya, biasanya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu mereka semakin benci kepada Yesus dan semakin membakar amarah mereka yang pada puncaknya mereka menyalibkan Yesus. Lihat, kebenaran yang disampaikan Yesus menimbulkan gejolak sosial bahkan politik, karena peristiwa penyaliban Yesus sudah melibatkan pemerintah Romawi.

Yesus tidak berkompromi dengan dosa dengan tetap menyatakan kebenaran sekalipun itu menimbulkan pertentangan. Paulus juga melakukan hal yang sama, bahkan ketika orang yang melakukan kesalahan itu adalah Petrus seorang rasul yang senior, dia tetap menyampaikan kebenaran dengan konsisten dan tidak kompromi (Galatia 2:11-21). Tidak seperti nabi-nabi palsu dijaman Yeremia yang mengatakan damai sejahtera, damai sejahtera, tetapi sebenarnya tidak ada damai sejahtera ! (Yeremia 6:14, 8:11).
PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca Amsal 10:11. Mulut orang benar adalah sumber kehidupan. Bagaimana caranya? Yaitu ketika mulut itu menyampaikan kebenaran, menegur kepalsuan dan dosa. Tetapi mulut orang fasik ‘menyembunyikan’ kelaliman. Orang fasik mengatakan damai tetapi sesungguhnya bermaksud kelaliman/kejahatan. Dibalik kata-katanya yang indah tersembunyi kelaliman.
Kemudian mari kita baca Galatia 2:11-21. Temukan apa yang Paulus lakukan ketika dia melihat apa yang dilakukan oleh Petrus itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Mari masing-masing kita renungkan, adakah saat-saat atau area didalam hidup kita dimana kita berkompromi hanya agar tidak ada konflik atau pertentangan? Mungkin itu ditempat kerja kita, dirumah, lingkungan atau gereja. Adakah kita korbankan kebenaran demi segala sesuatunya terlihat damai? Atau kita korbankan kebenaran karena kita terlalu takut akan adanya konflik atau pertentangan?

B.3. MELAKUKAN (M3)
2 hal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita dari apa yang kita pelajari hari ini. Pertama, jangan kita menjadi marah, kecewa, atau putus asa ketika ada yang menyampaikan kebenaran kepada kita sekalipun itu sangat-sangat menegur kita atau pun menyedihkan hati kita. Karena kebenaran yang disampaikan kepada kita itu pasti akan menghidupkan kita, kebenaran yang disampaikan itu pasti menyelamatkan kita. Terlepas cara dan motivasi yang tidak tepat ketika kebenaran itu disampaikan kepada kita, tapi selama itu kebenaran itu pasti akan menyelamatkan dan mendewasakan kita. Jangan kita bersungut-sungut, kecewa bahkan menjadi marah.
Kedua, jangan kita menjadi kompromi ketika kita melihat ada ketidakbenaran ditempat kita berada, entah itu dipekerjaan, disekolah, dirumah bahkan digereja. Tentu kebenaran itu harus disampaikan dengan hikmat dan pimpinan Tuhan. Karena ketika kita menyampaikan kebenaran, kita sedang menyampaikan kabar damai. Kita sedang mengusahakan damai.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Diskusikan dan ceritakan dengan rekan komsel/pelayanan bagaimana pemahamanmu tentang renungan hari ini dan rencana untuk melakukannya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

