31 Desember 2021
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
1 Yoh 4:7, Matius 9:36, 1 Tes 2:8, Matius 5:44-45
PENGANTAR
Menjadi seorang pembawa damai (peacemaker) ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Bukan hanya sekedar menjadi orang yang ramah, menjadi penengah (mediator) ketika terdapat 2 pihak yang bertengkar, atau bahkan menjadi seorang yang berjuang untuk nilai-nilai kedamaian baik melalui organisasi sosial/politik. Ya semua itu bisa saja menunjukkan gejala atau pertanda bahwa kita adalah seorang pembawa damai. Tetapi menjadi seorang pembawa damai yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kita menjadi orang yang mendamaikan antara manusia dengan Allah, membawa damai sampai ketingkat hati atau rohani. Dan ini hanya bisa terjadi jika kita benar-benar memiliki kasih baik kepada Allah maupun kepada manusia. Jika hanya menjadi orang yang ramah, mendamaikan 2 orang yang bertengkar, atau menjadi orang yang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan, orang yang tidak mengenal Tuhan pun bisa melakukannya dan itu sudah banyak kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari.
Seorang pembawa damai harus memiliki hubungan yang baik dengan kedua belah pihak agar bisa menjadi seorang mediator (perantara). Lebih dari itu haruslah mengasihi kedua belah pihak. Bahkan jika pihak yang dibela itu adalah musuhnhya. Karena jika kita baca di dalam Matius 5:44-45, kita dapati bahwa orang yang bisa mengasihi musuhnya dia juga akan disebut sebagai anak-anak Allah (sama dengan Matius 5:9), yang artinya seorang pembawa damai berarti juga adalah seorang yang bisa mengasihi musuhnya. Karena itu seorang pembawa damai yang sejati haruslah benar-benar memiliki kasih baik kepada Allah maupun kepada manusia. Hanya dengan memiliki kasih kepada Allah dan manusia kita bisa benar-benar memiliki hasrat untuk mendamaikan keduanya. Hanya dengan itu kita bisa seperti Paulus atau rasul-rasul yang lain yang rela mengorbankan segalanya bahkan nyawa mereka untuk bisa membawa manusia kepada Allah.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari kita baca 1 Yoh 4:7, Matius 9:36, 1 Tes 2:8 dan temukan
- Dari manakah kasih itu berasal? Berarti untuk bisa memiliki kasih kita harus mengasihi sumber kasih itu bukan?
- Apa yang menggerakkan hati Yesus terhadap orang banyak?
- Apa yang membuat Paulus rela membagikan bukan hanya Injil tapi juga hidupnya kepada jemaat di Tesalonika?
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Mungkin ketika kita renungkan, kita merasa sulit sekali untuk menjadi seorang pembawa damai seperti yang Tuhan maksudkan. Apalagi jika didalam hidup kita sendiri sudah begitu banyak masalah, banyak yang harus dipikirkan. Namun *semuanya adalah pilihan kita*, apakah kita mau tenggelam didalam semua masalah dan persoalan yang kita hadapi atau kita mau fokus kepada apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? jangan salah mengerti, kita tetap harus fokus mengerjakan apa yang bisa kita kerjakan dan apa yang menjadi tanggung jawab kita didalam semua masalah dan persoalan yang kita hadapi. Tetapi dilain pihak kita harus tetap mengarahkan hati dan pikiran kita kepada maksud Tuhan. Apa bedanya? Bedanya jika orang yang hanya fokus terhadap masalahnya tanpa mengarahkan hati dan pikirannya kepada kehendak Tuhan, masalah-masalah itu tidak membawa dia semakin dekat kepada Tuhan dan tidak semakin mendewasakan dia. Mungkin masalahnya selesai, tapi tidak memberikan nilai apa-apa kepada hubungannya dengan Tuhan. Coba renungkan, adakah hari-hari ini masalah atau persoalan yang sangat menyita hidup kita?hati dan pikira kita mengarah kemasalah itu sehingga sedikitpun kita tidak terpikirkan tentang Tuhan, apalagi terpikirkan untuk mengerti apa yang menjadi kehendak dan rencanaNya.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Apapun yang kita alami hari-hari ini, mari kita tetap fokus mengasihi Tuhan. Dengan cara apa? *Dengan cara apapun yang baik yang biasanya akan dilakukan oleh orang yang mengasihi kekasihnya.* Kita bisa mengaku mengasihi Tuhan beribu-ribu kali, tapi jika kehidupan kita tidak merefleksikan kasih itu maka semua itu berarti hanya klaim sepihak dari kita. Kita bisa mengklaim mengasihi kekasih kita, tapi jika kekasih kita tidak merasakannya berarti semuanya hanyalah tong kosong, canang yang gemerincing saja. Dengan mengasihi Tuhan yang adalah sumber kasih, maka kita juga bisa memiliki kasih kepada sesama itu. Sebab tidak mungkin orang yang mengasihi Tuhan tidak mengasihi sesamanya. Terpujilah Tuhan!
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Diskusikan dan ceritakan dengan rekan komsel/pelayanan bagaimana pemahamanmu tentang renungan hari ini dan rencana untuk melakukannya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

