01 Januari 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Lukas 23:34, Galatia 2:9, Matius 5:9-11
A. PENGANTAR
Sebelumnya kita sudah belajar bahwa damai dan kebenaran adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak boleh berkompromi hanya karena ingin semuanya terlihat damai. Kita tidak boleh menganggap damai adalah yang paling penting, lalu kebenaran bisa dikorbankan. Jadi kebenaran harus disampaikan sekalipun itu bisa menimbulkan gejolak. Ingat bagaimana Yesus mengecam dengan keras orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus tetap menyampaikan kebenaran sekalipun itu membuat orang-orang tersebut semakin membenci dan memusuhiNya. Juga bagaimana Paulus tetap menegur Petrus, sekalipun Petrus adalah seorang rasul yang senior.
Namun menyampaikan kebenaran, menegur dosa, mengecam kesalahan adalah satu hal. Satu hal lain yang juga harus dilakukan seorang pembawa damai adalah mengasihi orang-orang itu. Memang seperti 2 hal yang bertolak belakang, tapi inilah harga yang harus dibayar oleh seorang pembawa damai. Karena itulah kemarin kita sudah belajar juga bahwa untuk menjadi seorang pembawa damai kita membutuhkan kasih terhadap Allah dan juga kasih terhadap manusia. Karena tanpa kasih kita tidak akan mampu melakukannya. Sekalipun Yesus mengecam dengan keras orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, namun Yesus tetap mengasihi mereka. Ini Dia buktikan bahkan ketika Dia sedang menderita dikayu salib, Dia tetap membela mereka dan mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Atau seperti Paulus yang tidak segan-segan menegur Petrus, tapi mereka tetap saling mengasihi dan saling mendukung pelayanan satu sama lain (Galatia 2:9).

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca Lukas 23:34 dan Galatia 2:9 dan renungkan apa yang membuat Yesus dan Paulus bisa tetap mengasihi orang-orang yang mereka tegur?
Lalu baca Matius 5:9-11. Apakah yang anda temukan kaitannya dengan mengasihi orang yang kepadanya anda menyampaikan kebenaran?
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Jika kita masih merasa bahwa menyampaikan kebenaran dan mengasihi adalah hal yang mudah/sederhana, maka kita harus renungkan lebih dalam lagi. Mari kita ibaratkan hal ini seperti merawat/membesarkan anak. Seringkali kita sudah sampaikan berkali-kali kepada anak kita, bahwa memakan permen/coklat terlalu banyak itu tidak baik, tetapi tetap saja anak kita tidak mengerti atau mengomel bahkan menangis. Terkadang kita harus menegur, dan memarahi anak kita dan terkadang juga menjatuhkan disiplin. Tapi kita tidak boleh hanya memarahinya saja, tapi kita juga harus mengasihinya sedemikian rupa. Tugas sebagai orang tua memang sulit, dan seperti ini juga lah tugas seorang pembawa damai bahkan mungkin lebih sulit lagi. Kita akan mengalami perasaan kita seperti roller coster, naik turun, dan mungkin terkadang putus asa. Karena itu kita harus siap membayar harganya. Belum lagi ketika kita menyampaikan kebenaran, dimana bisa saja akan timbul gejolak yang bisa saja membuat kita dianiaya, bahkan kehilangan nyawa.
Kita mengerti sekarang, kenapa setelah Yesus menyampaikan di Matius 5:9 tentang membawa damai lalu diikuti diayat 10-11 dimana Yesus bicara tentang orang yang dianiaya karena kebenaran, dicela bahkan difitnahkan segala yang jahat. Yesus ingin menunjukkan harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang pembawa damai yang menyampaikan kebenaran. Siapkah kita dengan semua resiko ini untuk menjadi seorang pembawa damai?

B.3. MELAKUKAN (M3)
Huffh..memang berat tugas seorang pembawa damai, tapi itu adalah sebuah kehormatan bagi kita dan sebuah panggilan yang mulia. Memang berat, tapi ada janji yang Tuhan berikan yaitu upah yang besar menanti kita disorga, kita akan disebut anak-anak Allah, dan kita adalah yang empunya Kerajaan Sorga. Apalagi yang indah selain kita disebut anak-anak Allah? Apalagi yang kita cari, jika Kerajaan Sorga kita miliki? Mari jangan berputus asa, jika hari-hari ini kita mengalami seperti keadaan yang harus dibayar sebagai seorang pembawa damai. Dimana kita harus tetap mengasihi dengan kasih Allah, orang-orang yang mungkin sudah berkali-kali kita sampaikan kebenaran tetapi seperti tidak ada hasilnya dan bahkan mungkin orangnya membenci kita, menganiaya kita dalam bentuk lain yang mungkin bukan fisik tapi perasaan kita, mental kita. Jangan putus asa, Tuhan pasti menolong dan menuntun!
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Diskusikan dan ceritakan dengan rekan komsel/pelayanan bagaimana pemahamanmu tentang renungan hari ini dan rencana untuk melakukannya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

