02 Januari 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
A. PENGANTAR
Mari kita baca kembali Matius 5:9. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka *akan* disebut anak-anak Allah”. Sekarang mari kita mengajukan beberapa pertanyaan. *Pertama*, orang macam apa yang akan disebut sebagai anak-anak Allah?hanya ada 1 macam orang, yaitu orang yang membawa damai. Selain itu ada juga macam orang yang lain yang sejajar dengan orang yang membawa damai, yaitu orang yang mengasihi dan berdoa bagi musuhnya (Matius 5:45). Kesimpulannya adalah, dalam konteks Matius 5, selain macam orang yang membawa damai dan mengasihi musuh tidak ada lagi macam orang yang lain yang akan disebut sebagai anak-anak Allah. Jadi kita harus menjadi orang yang membawa damai atau mengasihi musuh agar disebut anak-anak Allah. Pertanyaan *kedua*, kapankah waktunya orang yang membawa damai disebut anak-anak Allah?jika kita perhatikan, ada kata “akan” diayat yang kita baca. Kata “akan” ini merupakan bentuk kata kerja masa depan. Yang artinya, bukan sekarang orang yang membawa damai akan disebut sebagai anak-anak Allah, tapi nanti. Dan yang menariknya, jika kita baca Matius 5 dari ayat 3-10, maka ada beberapa ayat yang menggunakan kata “akan”. Yaitu ayat 4,5,6,7,8,9. Dan semua kata “akan” tersebut adalah bentuk kata kerja masa depan yang artinya belum pernah terjadi dan nanti baru akan terjadi. Jika anda penasaran dan memiliki waktu, cek lah dengan menggunakan aplikasi Alkitab online. Maka anda akan menemukan kata “akan” ini dengan pengkodean seperti 5701, 5695, dst yang semuanya sama menunjukan kata kerja masa depan. Ini supaya anda yakin bahwa penulis tidak sedang mengada-ada. Artinya, kata “akan” ini seperti sebuah penegasan atau pengesahan yang nanti akan Allah sampaikan kepada setiap orang apakah seseorang itu termasuk kita adalah benar-benar anak Allah atau bukan. Roma 8:23 mengatakan bahwa kita yang telah menerima Karunia Sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil *menantikan pengangkatan sebagai anak*. Sedangkan di Roma 8:15, Paulus mengatakan bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah. Jadi apa maksudnya?kita sudah menjadi anak-anak Allah, tetapi kita juga masih menantikan pengangkatan sebagai anak? Maksudnya adalah sekarang kita memang anak-anak Allah, tetapi sebagai anak-anak dalam masa persiapan dan ini adalah keistimewaan yang orang percaya miliki dibandingkan dengan orang-orang yang tidak percaya. Kita akan ditetapkan/disahkan sebagai anak-anak Allah nanti jika kita didapatiNya sesuai seperti yang Allah maksudkan. Yohanes 1:11 *tidak* mengatakan setiap orang yang percaya menjadi anak-anak Allah, melainkan dikatakan setiap orang yang percaya *diberiNya kuasa* supaya menjadi anak-anak Allah. Kuasa berarti otoritas, hak, kebebasan, kekuatan.

Jika kita tidak menggunakan kuasa yaitu hak, otoritas, kebebasan, kekuatan itu maka kita tidak bisa menjadi anak-anak Allah. Kuasa untuk apa? Kuasa untuk kita bisa bersikap, bertindak, berpikir seperti Kristus yang Dia berikan melalui Roh Kudus. Dan hak atau otoritas atau kekuatan ini hanya dikaruniakan kepada orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat sebagai sebuah fasilitas atau keistimewaan dimana apakah kita mau menggunakan fasilitas atau keistimewaan tersebut atau tidak tergantung kepada kita masing-masing.
PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca Matius 5:9, Matius 5:45. Kita akan disebut anak-anak Allah jika kita?
Roma 8:15, Roma 8:23. Apa yang kita terima sehingga kita disebut sebagai anak-anak Allah? Dan apa yang kita nantikan?
Yohanes 1:11. Apa yang akan diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada namaNya?
Filipi 2:12. Siapa yang harus tetap mengerjakan keselamatan? Dengan apa?
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Sekarang ini sebutan anak Tuhan telah mengalami kemerosotan. Kita begitu mudahnya mengatakan diri kita atau orang lain sebagai anak Tuhan yang penting tercatat sudah pernah lahir baru, kita katakan sebagai anak Tuhan. Padahal jika kita kembali kepada Alkitab, tidak semudah itu. Lalu jika demikian apakah artinya keselamatan itu bersyarat? Tidak! Sama sekali tidak!, kita tidak akan mampu membayar harga keselamatan itu sama sekali. Tetapi untuk hidup dalam keselamatan itu, untuk mengerjakan keselamatan itu tidak gratis sama sekali. Apa harganya? Harganya yaitu seluruh hidup kita dan keberadaan kita. Yaitu kita harus “menjual” segala harta kekayaan yang kita miliki (ambisi, kesenangan, kedagingan, keakuan, dsb) untuk bisa mendapatkan harta yang terpendam. Ada pertukaran yang harus kita lakukan.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Jadi kita “jangan merasa begitu aman”, merasa bahwa kita sudah lahir baru, sudah pelayanan, menjadi aktivis, dsb, dan kita merasa sudah menjadi anak Tuhan kemudian kita bisa hidup sesuka hati kita. Karena bisa saja nanti ketika waktunya tiba, ternyata kita tidak disebut sebagai salah satu anak-anak Allah jika ternyata didapati kita bukanlah seorang yang membawa damai atau seorang yang mengasihi musuhnya.
Karena itu didalam Filipi 2:12, Paulus mengatakan untuk kita tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Yaitu maksudnya supaya kita menghasilkan buah yang sepadan dengan pertobatan kita yang termasuk diantaranya adalah menjadi seorang pembawa damai dan seorang yang mengasihi musuh.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Diskusikan dan ceritakan dengan rekan komsel/pelayanan bagaimana pemahamanmu tentang renungan hari ini dan rencana untuk melakukannya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

