23 Februari 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Filipi 1:27
A. PENGANTAR
Ketika kita berbicara tentang kekudusan, maka kita berpikir hal itu adalah urusan pribadi seseorang. Tentu saja kita masih merasa bahwa untuk mencapai kekudusan kita memerlukan pertolongan Tuhan, namun kita tidak benar-benar merasa bahwa kita juga memerlukan pertolongan orang lain. Kita merasa bahwa kita bisa tetap bertumbuh secara rohani, yang penting kita tetap mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Kita merasa baik-baik saja, tanpa membutuhkan anggota-anggota lain dalam tubuh Kristus.
Kolose 2:19 mengatakan bahwa kita menerima pertumbuhan itu dari Allah yang adalah kepala, namun hal itu bisa terjadi hanya jika kita diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi sehingga menyatu dengan tubuh. Artinya bahwa untuk kita bisa bertumbuh secara rohani, mencapai kekudusan seperti yang Allah kehendaki kita perlu menyatu dengan anggota tubuh yang lainnya. Kasih Allah itu harus mengalir kepada orang lain, yang mana itu bisa terjadi jika kita ada bersama-sama dengan orang lain. Sementara kita bertumbuh dalam kekudusan, kehidupan kita akan mempengaruhi orang lain, begitu juga dengan kehidupan orang lain akan mempengaruhi kita sehingga kita bertumbuh bersama-sama. Kehidupan rohani kita tidak mungkin hanya berurusan dengan pribadi kita sendiri.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi dalam Filipi 1:27, Paulus berharap sambil menasehati mereka agar hidup mereka berpadanan dengan Injil Kristus dengan cara tetap teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari pemberitaan Injil. Dalam Alkitab versi BIS, dikatakan agar mereka teguh bersatu dan berjuang bersama-sama untuk hanya satu maksud dan satu keinginan; yaitu untuk kepercayaan yang sesuai dengan Kabar Baik dari Allah itu. Kemudian dalam versi KSI, dikatakan agar mereka tetap ada di dalam satu ruh, berjuang ber-sama-sama dengan satu hati bagi iman yang berasal dari Injil.
Ini adalah suatu kondisi yang indah bagaimana jemaat berjuang bersama-sama, teguh berdiri dan satu hati untuk bisa tetap hidup berpadanan dengan Injil. Dengan kata lain mereka berjuang bersama-sama untuk menjadi pemenang. Dalam kitab Wahyu, disetiap surat kepada ketujuh jemaat, kata “menang” selalu disebutkan. Jadi Tuhan mengharapkan, kita menang bersama-sama sebagai sebuah jemaat.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Apa dosa yang paling sulit untuk dikalahkan? Kecenderungan alami kita kearah yang berkaitan dengan kepentingan diri kita : Kesombongan, ingin menang sendiri, merasa pendapatnya paling benar, ketidaksabaran, mengasihani diri sendiri, suka mencela, ingin dianggap penting, hanya peduli dengan perasaan sendiri dan tidak peka dengan perasaan orang lain, dst. Apakah semuanya ini bisa dikalahkan jika kita berada dikamar atau dirumah untuk menyendiri? Jika kita tidak pernah diasah dengan bertemu dengan orang-orang yang membuat kecenderungan tersebut muncul?
Satu-satunya cara untuk kita dapat bersama-sama mengalahkan dosa-dosa ini adalah jika kita ada didalam komunitas, jemaat Tuhan. Dan ketika didalam komunitas itu kita bersedia untuk mengakui kesalahan atau dosa-dosa kita kepada sesama, atau dengan penuh keterbukaan menerima koreksi apabila dosa kita ditunjukkan kepada kita. Kedua hal ini sangat sulit, dan karenanya kita juga membutuhkan anugerah Tuhan.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Tidak mudah agar bisa tercipta atmosfir berjuang bersama-sama sebagai sebuah kesatuan. Perlu keterbukaan karena kesatuan bisa dicapai dengan saling membuka hati satu sama lain. Seharusnya, kita bisa tampil apa adanya, tidak perlu pura-pura tampil kudus daripada keadaan sebenarnya. Kepura-puraan malah menjauhkan kita dari doa dan pertolongan karena orang lain tidak menyadari kebutuhan dan persoalan kita. Kita harus belajar terbuka. Orang lain sedang memerangi dosa, demikian juga dengan saya. Jika kita memeranginya bersama-sama, kita akan memenanginya bersama-sama pula. Keindahan hidup dalam satu tubuh, kita saling menolong untuk mengalahkan dosa. Seharusnya didalam komunitas kita, kita merasa aman untuk kita bisa berkata kepada sesama, “ini kelemahan saya, apa kelemahan anda”?.
Mari kita belajar untuk : Pertama tidak bersikap menghakimi, bahkan jika itupun masih berupa pikiran kita. Ingat dia bergumul untuk suatu dosa, kita juga walaupun mungkin untuk bentuk dosa yang berbeda. Kedua belajar untuk bersikap terbuka untuk segala kelemahan dan kekurangan kita. Tidak perlu berpura-pura kita lebih kudus daripada yang sebenarnya. Kiranya Allah Bapa menolong kita menjadi jemaat yang menang, yang berjuang bersama-sama sebagai SATU tubuh Kristus. Amin!
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Diskusikan dengan rekan/anggota komsel, aksi nyata atau langkah praktis apa yang bisa dilakukan terkait dengan renungan hari ini.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

