SELASA – KOMUNITAS YANG SELALU TERKONEKSI DENGAN TUHAN

01 Maret 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Kolose 2:18-19 ; Kisah Para Rasul 2:41-42

A. PENGANTAR

Dalam renungan sebelumnya dijelaskan prinsip “Jemaat dibangun oleh Yesus Kristus, bukan oleh manusia” (Mat 16:18). Prinsip ini menjadi landasan berpikir dan bertindak di dalam kehidupan berjemaat sehari-hari. Ketika kita meyakini bahwa Sang Kepala Gereja hadir setiap saat di dalam kehidupan berjemaat, maka akan menjadi sangat terasa maknanya tentang hidup yang selalu terkoneksi dengan Tuhan. Tetapi waspadalah, karena dibutuhkan konsistensi berpikir agar kita tidak terjebak dengan situasi yang sarat dengan kegiatan pelayanan semata, tanpa mengalami sukacita dan dinamika pertumbuhan kerohanian dan karakter Kristus di dalam kehidupan berjemaat.

Bagaimanakah kita dapat bertumbuh sehat secara rohani ketika kita saling melayani dalam jemaat Tuhan? Ada satu penilaian yang tidak baik yang dijelaskan dalam Kitab Kolose 2:18-19, perihal melayani dalam jemaat. Kegiatan ibadah yang didasarkan pada “kepura-puraan merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat” dan “berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikiran duniawi”, tetapi ia tidak berpegang teguh pada Kepala yakni Yesus Kristus dalam konteks tubuh Kristus. Hal demikian adalah salah dan fatal serta dapat menjadi penghambat terciptanya saling mengasihi di dalam jemat. Sebab apapun yang dilakukan dalam gereja lokal untuk menimbulkan kesan rohani, jika tidak sedang melakukannya untuk Tuhan, maka itulah kegiatan jemaat yang sia-sia. Yang didapatkan adalah kesalahan dan kelelahan jiwa dalam melayani Tuhan. Jika terjadi kelelahan jiwa dalam melayani Tuhan, maka itulah tanda telah terjadi diskoneksi atau hubungan yang retak dengan Tuhan di dalam kekristenan seseorang.

Mari kita belajar meneladani gaya hidup jemaat Tuhan yang selalu terkoneksi dengan Kepala gereja melalui iman percaya orang-orang percaya di dalam tindakan baptisan yang dilakukan (KPR 2:41). Tindakan baptisan yakni tindakan iman untuk menjadi satu dalam kematian dan kebangkitan Yesus (Roma 6:5). Kekuatan kelekatan antara tiap anggota jemaat dengan Tuhan, selalu akan menuntun kita untuk melakukan yang benar dan berkenan kepada Allah dan tentunya mendatangkan sukacita dan perkenanan bagi Tuhan. Tidak ada kelelahan dan putus asa manakala melayani jemaatNya. Sukacita oleh Roh Kudus akan terus terpancar ketika melayani apapun dan kapanpun di dalam pengabdian penuh kepada Allah. Itulah gaya hidup komunitas Ilahi yang selalu bertumbuh secara pribadi ketika melayani orang lain. Semakin terampil dan dewasa di dalam karakter Kristus serta keterampilan demi keterampilan melayani yang semakin teruji melalui buah-buah pelayanan yang ditunjukkan.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Bacalah Kolose 2:18-19 ; Kisah Para Rasul 2:41-42

  1. Tidak berpegang teguh pada apakah yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus ? (Kolose 2:19)
  2. Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri…. (KPR 2:41). Apakah yang terjadi setelah mereka dibaptis? (KPR 2:42)

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Apakah artinya berpegang pada kepala? (Kol 2:19). Apakah dampak kegiatan pelayanan seperti yang tertulis dalam Kolose 2:18 terhadap kehidupan rohani seseorang? Kira-kira dampak kepada jemaat Tuhan?

B.3. MELAKUKAN (M3)

Bangunlah dengan konsisten gay hidup berdoa dan bersekutu dengan Tuhan di kamar tidur Anda atau pribadi Anda sebagai langkah praktis membangun kedekatan yang melekat dengan Tuhan.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Cobalah berbagi kesan-kesan rohani dari hasil doa dan perenungan Anda, kepada orang lain.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47