RABU – ANGGOTA TETAP, BUKAN SEMENTARA

02 Maret 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Roma 6:5; Kisah Para Rasul 2:41-42

A. PENGANTAR

Tahukah Anda, bahwa ada satu keistimewaan hubungan antara Kristus dengan pengikutNya. Apakah itu? Yakni satu jenis ikatan hubungan yang terjalin melalui satu iman kesatuan anak-anakNya dengan baptisan dalam kematian dan kebangkitanNya (Roma 6:5). Arti kata ‘baptisan’ dari kata “Baptize” yang artinya ditenggelamkan. Artinya menjadi satu dalam kematian dan kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Ketika seseorang menyerahkan diri kepada Kristus dan dibaptis, maka dia bukan sekedar memproklamirkan iman kristianinya kepada dunia, tetapi dia telah memutuskan diri untuk menjadi anggota gereja Tuhan secara universal. Ada satu ikatan suci dan kokoh sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan kata lain itulah ikatan permanen secara rohani sebagai anggota jemaat Kristus di bumi. Atau dia sudah menjadi anggota tetap warga kerajaan Allah, bukan anggota sementara. Wujudnya adalah komitmen seseorang sebagai anggota gereja lokal di bumi (KPR 2:41-42).

Bagaimanakah kita dapat memandang jenis ikatan suci dan permanen antara Tuhan sang Kepala Gereja dengan orang percaya sebagai anggota tubuhNya? Jika kita sudah mengalami kelahiran kembali, maka kita telah disahkan oleh materai Roh Kudus untuk menjadi milik Allah selamanya. Kebenaran ini menjadi kunci utama yang mempersatukan setiap orang Kristen menjadi warga gereja. Sekiranya terjadi proses pembelajaran melalui konflik dan bentuk-bentuk perbedaan lainnya di dalam jemaat Tuhan, maka Tuhan izinkan agar kualitas hubungan antar anggota tubuhNya dimurnikan dan ditempah semakin sekualitas Kristus di dalam kadar pertumbuhan diri masing-masing.

Hanya saja kita perlu memiliki cara pandang seperti ini. Konflik atau perbedaan pendapat bukanlah menjadi alasan untuk berpisah atau menjauh dari komunitas anak-anak Tuhan, misal karena perbedaan doktrin atau dogma tertentu, tetapi perbedaan tersebut sebagai cara Tuhan juga untuk setiap anak-anak Tuhan belajar terbuka kepada Alkitab sebagai firman Allah melalui pertolongan Roh Kudus sehingga kita dapat memahami Alkitab yang sama yang kita baca dengan rasa hormat dan takut akan keaslian makna Alkitab (Yoh 16:13). Hanya kita perlu mengendalikan pola pikir kita dengan menyelaraskannya pada pola pikir Allah (Flp 2:5), bukan pola pikir Allah yang menyelaraskan diriNya dengan pola pikir kita.

Itu sebabnya, keanggotaan sebagai jemaat Tuhan, adalah tetap dan terus didewaskan kualitasnya setiap hari. Sebagai penguatan lewat analogi berikut, perhatikanlah, ayah, ibu dan anak adalah anggota rumah tangga. Keanggotaan tetap berlaku di kala senang, maupun susah, kaya maupun miskin atau dalam keadaan damai maupun konflik. Demikian juga kekuatan hubungan antara anggota jemaat yang dipersatukan dalam segala keadaan oleh baptisan dalam kematian dan kebangkitanNya.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Bacalah Roma 6:5; Kisah Para Rasul 2:41-42

  1. Menjadi satu dalam apakah orang-orang percaya di Roma? (Roma 6:5)

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Ambilah waktu khusus untuk Anda dapat merenungkan, seberapa kuat hubungan kasih Anda dengan anggota jemaat dalam gereja lokal Anda! Cara efektif untuk mengujinya adalah tatkala terjadi konflik antara diri Anda dengan jemaat lain di satu gereja lokal. Kaitkanlah dengan Roma 6:5.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Cobalah membangun karakter kerendahan hati dan penerimaan tanpa syarat dari diri Anda terhadap saudara seiman dalam gereja lokal Anda.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Jikalah Anda memiliki beban pikiran terhadap saudara seiman, sampaikanlah kepada saudara yang lain untuk dapat didoakan secara bersama-sama.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47