03 Maret 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Kisah Para Rasul 11:28-30
A. PENGANTAR
Konsekuensi kehidupan berjemaat adalah selalu mengizinkan Tuhan, Sang Kepala Gereja untuk turut campur tangan di dalam semua bentuk kegiatan kejemaatan. Ingatlah Kembali Efesus 1:22, yang intinya Yesus Kristus sebagai Kepala dari jemaat, sebagai Kepala dari segala yang ada. Demikianlah yang terjadi di dalam jemaat di Antiokhia. Jika kita cermati dengan seksama, bahwa jemaat di Antiokhia dibangun oleh karya Roh Kudus lewat para Rasul yang berangkat dari Kota Yerusalem. Lalu Nabi dan pengajar, diantaranya Agabus membangun jemaat ini. Dalam perkara memutuskan untuk meresponi dunia yang ditimpa bahaya kelaparan besar, ada doa dan kuasa Roh Kudus yang menggerakan jemaat untuk membuat keputusan untuk mengumpulkan suatu sumbangan. Ada yang berdoa dan menerima suara Tuhan dan ada jemaat yang meresponi dengan taat serta disusul dengan Ttndakan kasih yang nyata.
Perhatikanlah dengan baik. Ketika Kepala gereja bekerja di dalam hati jemaat yang menghormati Dia dan selalu membuka diri akan Gerakan Roh Kudus serta dengan hati lembut dan taat bersegera melaksanakan perintahNya, maka pasti akan terlihat satu suasana surgawi diantara jemaat. Itulah wujud identitas sebagai jemaat Tuhan. Dalam berbagai hal, seyogyanyalah kita mendedikasikan dengan kongkrit semua kegiatan jemaat kepada Dia, setelah doa dinaikkan dan terjadi persetujuanNya untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang memberkati orang lain. Roh Kudus sangat tahu dan mampu menolong pelayanan umatNya agar terjadi sesuai dengan perintahNya, bukan dengan kemauan kita. Cerita Marta dan Maria (Lukas 10:38-42), adalah wujud dua orang yang mengenal Yesus Kristus, tetapi dalam prakteknya, Tuhan hanya berkenan kepada Maria, bukan kepada Marta.

Ternyata ukuran perkenan Tuhan terhadap anak-anakNya adalah diukur dari seberapa dekat dan mengertinya seorang anak Tuhan terhadap kehendak Allah. Bukan sebaliknya pada kesibukan kegiatan semata. Terkadang sidrome Marta bisa menggoda kita. Pada waktu Tuhan Yesus sudah hadir di dalam jemaat, tetapi kesibukan diri mendominasi sehingga terlupakan bahwa Pribadi yang utama dan yang harus disembah. Sesungguhnya menunggu respon kita. Itu sebabnya Tuhan berkata kepada Marta, “Marta ,engkau menyusahkan diri dengan banyak perkara. Tetapi Maria, apa yang ada padanya tidak akan diambil. Yakni satu rasa hormat dan takut akan kehadiran Tuhan dan lemah lembut untuk dituntun oleh Tuhan.”
Mari perkayalah hidup kita sebagai jemaat dengan keputusan demi keputusan yang ilahi (Divine Decision) agar kita tidak terkecoh dengan keputusan yang terkesan ilahi tetapi bukan ilahi. Sejauh kita terkoneksi dengan Kepala Gereja , maka tentu kita akan terluput dari semua bentuk kesalahan atau kegagalan dalam membuat keputusan di dalam kehidupan berjemaat. Jemaat yang cemerlang adalah jemaat yang selalu membuat keputusan ilahi (Divine Decision).
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacalah Kisah Para Rasul 11:28-30
- Apakah yang terjadi sebelum jemaat di Antiokhia mengumpulkan sumbangan untuk dunia yang kelaparan? (ayat 28).
- Tindakan apakah yang dilakukan jemaat setelah mendengar suara Tuhan? (ayat 29-30)

B.2. MERENUNGKAN (M2)
Cobalah untuk menghubungkan suara dan Gerakan Roh Kudus sebelum Anda membuat satu keputusan. Secara jujur, apakah seharusnya semua Tindakan kita sebagai anggota tubuhNya, adalah keputusan dari Tuhan ? Bagaimana Anda memahaminya?
B.3. MELAKUKAN (M3)
Langkah sederhana dalam membangun budaya membuat keputusan ilahi adalah berdoa, menantikan jawabanNya dan merealisasikan jawabanNya dengan tepat dan segera.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Jika Anda pernah mendengarkan suara Tuhan, cobalah berlatih menceritakannya kepada saudara seiman yang dapat dipercaya dan dewasa secara rohani. Ini adalah cara menguji dan memutuskan apakah Tuhan berbicara kepada Anda.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

