RABU – BUKAN MILIK YANG HARUS DIPERTAHANKAN

30 Maret 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Filipi 2:5-6

A. PENGANTAR

Karakter merendahkan diri berikutnya yang bisa kita pelajari dari nasehat Paulus kepada jemaat di Filipi adalah kita diminta untuk belajar memiliki sikap yang sama seperti yang dimiliki Kristus, berjiwa yang sama seperti yang ada pada Kristus. Yaitu, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” Filipi 2:6.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Filipi 2:5-6
2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, Perhatikan bahwa Paulus menasehatkan kita bahwa dalam hidup kita bersama yang tentunya bersama sebagai jemaat, kita harus mencontoh sikap dan jiwa yang dimiliki oleh Kristus untuk tidak mempertahankan sesuatu yang Allah tidak ingin kita pertahankan selain hanya ketaatan kita kepada Dia. Karakter ini penting untuk dimiliki setiap orang dalam kehidupan berjemaat.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Apa yang biasanya manusia pertahankan mati-matian?Nama baik, kehormatan, reputasi, jabatan, harta, dsb. Banyak orang jika sudah bicara nama baik atau reputasi maka dia akan berusaha sekeras mungkin untuk membela atau mempertahankannya. Tidak peduli jika harus berkelahi, yang penting nama baik saya atau keluarga saya tetap terjaga. Seringkali orang seperti hilang akal, demi untuk membela nama baiknya, jabatannya atau hartanya. Padahal seringkali sebenarnya yang dia bela atau pertahankan adalah perasaannya yang tidak mau direndahkan yang sebenarnya adalah bentuk kesombongan yang terselubung.

Hari ini kita belajar bahwa Yesus yang bahkan untuk sesuatu yang sebetulnya sangat-sangat layak untuk dibela atau dipertahankan yaitu kesetaraannya dengan Allah malah tidak mau mempertahankannya. Demi apa? Demi agar Dia bisa menuruti kehendak Bapa-Nya untuk menjadi manusia dan menjalani penderitaan untuk penebusan dosa manusia. Yesus lebih memilih melepaskan itu semua agar bisa taat kepada Bapa daripada Dia memiliki itu semua tapi tidak menjadi Anak yang taat. Dia rela tidak memiliki reputasi, nama baik, kehormatan dimata manusia tapi Dia dipandang terhormat dan ditinggikan oleh Allah Bapa. Bahkan orang-orang menertawakan Dia, meludahinya dan memahkotai Dia dengan duri dan memakaikan jubah kepada Nya yang sebenarnya untuk mengejek Dia. Puncaknya, Dia mati disalib. Sebuah hukuman yang hina pada jaman itu. Sebuah hukuman yang biasanya dijatukan kepada para pemberontak dan para kriminal.

Kita baru perasaan kita yang direndahkan saja,belum sampai diludahi sudah langsung tersulut emosinya ,langsung berusaha membalas dengan lebih keras. Betapa rapuhnya jiwa kita, jika kita masih seperti itu. Meskipun kita tahu bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk kita bisa menangkan, namun kita harus terus belajar untuk menaklukkannya hari demi hari. Tentu saja Allah Bapa akan menolong kita dengan perantaraan Roh Kudus, namun kita sendiri juga lah yang harus mendorong dan melatih diri kita untuk berubah.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Apa lawan/kebalikan dari mempertahankan? Melepaskan. Jadi ketika kita belajar untuk mengikuti teladan Yesus untuk tidak mempertahankan milik kita, sebenarnya kita sedang belajar untuk melepaskan. Apa yang hari-hari ini kita coba pertahankan? Dalam arti jika kita kehilangan itu, kita merasakan ada yang kurang. Nama baik kah? Reputasi? Jabatan? Pandangan orang terhadap kita? kita harus belajar untuk melepaskannya. Kita harus lebih takut tidak dipandang tinggi oleh Allah, daripada oleh manusia. Seandainya memang menurut Allah perlu untuk kita kehilangan reputasi/jabatan demi untuk tujuanNya maka kita harus merelakannya. Bukan nama baik yang harus kita jaga, bukan pandangan orang yang harus kita jaga tetapi pandangan Allah kepada kita lah yang harus kita jaga. Bukan berarti kita tidak boleh membela diri kita dan menyatakan sesuatu yang benar tentang diri kita jika memang faktanya demikian, namun hendaknya kita tetap bertanya kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan jika ada dalam situasi yang demikian. Apakah yang sedang kita lakukan adalah menyatakan fakta kebenaran, atau kita hanya sedang membela perasaan kita saja? Jangan-jangan Tuhan mau kita diam saja, dan membiarkan Tuhan yang bekerja dalam semuanya itu untuk tujuanNya.

Kenapa banyak orang menjadi lelah? Karena mereka terlalu khawatir dan sibuk untuk mempertahankan apa yang seharusnya dilepaskan. Seharusnya yang penting kita berkenan dan dipandang tinggi oleh Allah, maka semua itu cukup bagi kita.

Segala sesuatu milik kita selain ketaatan kita kepada Allah, adalah sesuatu yang tidak harus kita pertahankan. Jadi, perjalanan hidup orang Kristen yang sejati itu sebenarnya adalah perjalanan hidup untuk melepaskan apa yang harus dilepaskan.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saling berbagi ceritalah dan saling menguatkan dengan rekan komsel/saudara seiman tentang topik renungan hari ini.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47