KAMIS – RUPA SEORANG HAMBA

31 Maret 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Filipi 2:7

A. PENGANTAR

Istilah hamba Tuhan saat ini seolah-olah seperti sebuah gelar yang disematkan atas pencapaian tertentu seseorang dalam kaitannya melakukan tindakan/kegiatan/pekerjaan yang ada didalam gereja sama halnya seperti sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang karena berhasil menyelesaikan sebuah studi. Jadi jika kegiatan seseorang itu adalah melakukan kegiatan/pekerjaan yang ada didalam gereja maka dia dikatakan seorang hamba Tuhan. Walaupun tidak semua orang yang kegiatan/pekerjaannya didalam gereja dikatakan sebagai hamba Tuhan. Sebutan itu biasanya hanya disematkan kepada orang-orang yang pekerjaannya/kegiatannya/tanggung jawabnya sedikit lebih “elit” seperti memberitakan Firman Tuhan dimimbar, menjadi pemimpin pujian, pemimpin doa, pemimpin kelompok/group pelayanan dsb. Sedangkan untuk orang-orang yang menyusun bangku gereja, menyalami para jemaat saat hendak ibadah, menyiapkan roti perjamuan jarang sekali disebut sebagai hamba Tuhan. Memang hal ini sudah merupakan hal yang biasa dibanyak gereja tidak hanya di gereja tertentu saja.

Namun tanpa sadar hal ini menimbulkan strata didalam kekristenan yang akhirnya menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik. Misalnya, bagi group orang “elit” tersebut ini bisa menjadi benih kesombongan. Merasa diri lebih baik dari yang lain, merasa diistimewakan Tuhan lebih dari yang lain, merasa menjadi anak kesayangan Tuhan lebih dibandingkan dari yang lain, dsb. Sedangkan bagi group orang “yang terpinggirkan”, hal ini bisa membuat orang menjadi kurang berkomitmen, karena merasa dirinya hanyalah pelengkap, bukan “seorang hamba Tuhan”, bukan orang yang dipercaya oleh Tuhan, dst.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Filipi 2:7
“melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Kata rupa berasal dari kata morphe(mor-fay) yang berarti bentuk. Didalam Alkitab ada beberapa kata yang berarti bentuk, yaitu idea, schema, dan morphe. Namun makna dari ketiga kata tersebut berbeda. Idea dan schema lebih mengarah kepada tampilan luar saja, sedangkan morphe bukan hanya tampilan luar tapi juga termasuk kebiasaan, aktifitas, dan modus (cara) tindakan pada umumnya. Dalam morfh juga tersirat bahwa bentuk lahiriah mengungkapkan esensi batiniah. Artinya apa yang tampak diluar memang benar-benar ekspresi yang ada didalam.

Kata hamba Bahasa aslinya adalah doulos (doo’-los) yang berarti hamba/budak. Seorang budak adalah seorang yang telah dibeli. Ia menjadi milik majikan atau tuannya.
Kita juga adalah budak. Kita adalah milik Tuhan. Kita semua adalah budak-budak Tuhan karena kita telah dibeli (1 Korintus 6:20, 7:23).

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Apakah kita sudah dibeli? Apakah kita milik Tuhan? Jika kita adalah milik Tuhan maka kita wajib melayani Tuhan karena kita adalah hamba-Nya. Setiap kita yang sudah dibeli oleh darahNya, kita adalah budakNya, kita adalah hamba Tuhan. Terlepas apakah kita bekerja penuh waktu didalam gereja atau tidak, setiap kita yang percaya kepadaNya adalah hamba-hamba Nya. Dan setiap hamba harus berkomitmen total kepada tuannya. Apa yang dikerjakan oleh seorang hamba? Melayani.

Jadi pertama kita harus menyadari bahwa setiap kita adalah hamba Tuhan, bukan karena jenis pekerjaan/kegiatan atau tanggung jawab yang kita pikul didalam gereja. Tapi karena kita sudah dibeli dan harganya lunas dibayar oleh Tuhan. Kedua, setiap hamba harus berkomitmen total kepada tuannya. Setiap hamba harus melayani. Apapun yang kita kerjakan entah itu dirumah/kantor/lingkungan/gereja, kita sedang melayani Tuhan majikan kita. Ketiga, jangan hanya luarnya saja hamba Tuhan tapi terutama harus dari dalamnya. Morphe, berarti bukan hanya luarnya saja tapi juga kebiasaan, tindakan, cara hidupnya mencerminkan seorang hamba Tuhan, dari dalamnya memang kualitas seorang hamba Tuhan. Setia kepada tuannya, dan tidak mengabdi kepada dua tuan.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Setiap kita harus mengikuti teladan Yesus, yaitu mengambil rupa seorang hamba. Apa kaitannya mengambil rupa seorang hamba dengan kehidupan bersama sebagai sebuah jemaat? Jika setiap orang didalam jemaat fokus dengan hidupnya sebagai hamba Tuhan dengan pengertian yang benar, maka tidak akan ada perpecahan didalam jemaat. Kenapa? Karena semuanya melayani satu tuan dan tuan yang sama yaitu Allah Bapa melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Jika tuannya sama, tidak mungkin tidak nyambung satu sama lain, tidak mungkin ada perselisihan, tidak mungkin ada perpecahan. Kenapa ini sulit terjadi, karena banyak orang termasuk kita sering kali melayani dua tuan. Satu sisi merasa melayani Tuhan, tapi satu sisi sebenarnya melayani perasaan kita sendiri, melayani keinginan kita sendiri dan melayani tujuan kita sendiri.

Mari kita mengambil rupa seorang hamba, bukan hanya luarnya saja tapi terutama dalamnya juga. Kebiasaannya, tindakannya, cara hidupnya adalah cara hidup seorang hamba yang berkomitmen total kepada tuannya dan hanya melayani keinginan tuannya saja. Seorang hamba tidak memiliki hak atas dirinya sendiri, melainkan tuannya saja yang berhak.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saling berbagi ceritalah dan saling menguatkan dengan rekan komsel/saudara seiman tentang topik renungan hari ini.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47