16 April 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Lukas 14:7-11
PENGANTAR
Secara naluriah manusia ingin dipuji, diperhatikan, diprioritaskan, dihargai dan tidak mau direndahkan atau disepelekan. Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit merendahkan hati. Di zaman ‘keras’ seperti ini sulit menemukan orang yang rendah hati, karena kebanyakan orang berpikir bahwa kerendahan hati itu identik dengan kelemahan, di mana pamor atau gengsi akan turun.
MENEMUKAN (M1)
Kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. Inilah sifat yang harus kita miliki sebagai anak-anakNya, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup, “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:6-9).

Dan hal ini tidak mudah, dan dapat kita taati kalau kita mau mengorbankan diri kita. Merendahkan diri adalah bentuk pengorbanan yang sejati. Banyak orang mempertahankan dirinya, tidak mau direndahkan. Yesus memberikan keteladanan, bahwa Dia taat berjalan turun/direndahkan _ (dalam kerendahan hati dan rela berkorban_) di jalan anak tangga yang naik (kemuliaan)
MERENUNGKAN (M2)
Tanda orang punya kerendahan hati itu ada dua, yaitu: 1. Berani mengakui kesalahan. Karena gengsi, sedikit sekali orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan; mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (Amsal 28:13). 2. Mau belajar dan diajar. Proses ‘belajar dan diajar’ itu tidak hanya melalui pendidikan formal tetapi juga melalui ‘sekolah’ kehidupan, khususnya ketika kita berinteraksi dengan sesama dalam komunitas/gereja di mana pun berada. Proses ini tidak mengenal batasan usia dan waktu… “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17). Dalam proses gesekan inilah kita membutuhkan sikap hati rela berkorban demi kesatuan/kesehatian bersama.

MELAKUKAN (M3)
Mari kita hidupi seluruh kebenaran yang ada di dalam Lukas 14 ini, dimana kita mau merendahkan diri, dengan tidak menganggap kita lebih dari yang lain. “orang yang merendahkan diri akan ditinggikan oleh Tuhan”. Untuk itu kita harus rela berkorban mengalahkan keegoisan kita.
MEMBAGIKAN (M4)
Mari kita mengajak dan menguatkan satu sama lain anggota sel kita/komunitas , untuk senantiasa hidup sama seperti orang yang rendah hati, mau dibentuk bagi kemuliaan Allah.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

