13 Juli 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
1 Samuel 15:4-22
A. PENGANTAR
Mari cermatilah kisah pertempuran Bangsa Israel yang dipimpin Raja Saul, yang berhadapan dengan bangsa Amalek. Memang Raja Saul diberikan wewenang untuk mengalahkan Amalek, tetapi keputusan untuk menyerang Amalek dan tidak memenggal kepala Raja Agak serta membunuh semua hewan milik bangsa Amalek, adalah satu pelanggaran besar terhadap pesan Tuhan. Memang hasil pertempuran menunjukkan bangsa Israel mengalahkan bangsa Amalek dan menangkap Raja Agag sebagai pemimpin Amalek. Sepanjang catatan sejarah, sejak kepemimpinan Saul sebagai raja Israel, banyak kemenangan yang diraih bangsa Israel terhadap musuh-musuhnya. Kepiawaian Raja Saul dengan kepemimpinan dan strategi perangnya yang hebat adalah wujud tentang ekspresi otoritasnya sebagai Raja pilihan Allah.
Mari kita pahami secara mendalam tentang, dasar keberhargaan diri Saus. Lihatlah 1 Samuel 15:21-22. Ada teguran kuat dari Samuel yang isinya adalah mengutamakan mendengar suara Tuhan daripada mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan, mendengarkan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan. Di satu sisi ketetapan Allah untuk Saul sudah didengarkan Saul dengan baik, tetapi ada satu dorongan dalam dirinya sebagai seorang Raja yang berkuasa untuk mengalahkan Amalek, yang juga menunjukkan tentang harga diri yang harus ditampilkan Raja Saul di hadapan rakyatnya. Bagi Saul keputusan untuk berperang tanpa menunggu perintah dari Samuel adalah hal wajar dengan alasan untuk membela bangsa Israel dari serangan bangsa Amalek. Namun sebenarnya Saul tidak memposisikan Allah sebagai Pusat komando utama yang yang seharusnya dapat mengingatkan Saul tentang penundukkan diri kepada Allah. Perintah Allah melalui Samuel tidak menjadi hal yang mendasar dan yang terutama dalam keputusan Raja Saul untuk menyerang dan menangkap Raja Agag. Terdapat unsur egoisme yang manusiawi daripada unsur Ilahi yakni ketundukkan diri pada Allah , yang seharusnya terjadi, karena Saul diangkat menjadi Raja Israel oleh Allah, sehingga Saul seharus nya tunduk 100% kepada Allah.

Mari kita renungkan kisah pemberontakan Saul terhadap Allah yang berakibat fatal – Raja Saul dipecat dari jabatannya sebagai Raja Israel – bahwa sehebat apapun prestasi seseorang dengan jabatan dan fungsinya, tetapi jika tanpa pengertian diri yang benar bahwa darimana dan untuk apa seseorang anak Tuhan di bumi, misalkan dalam menjalankan peran sebagai pelajar, karyawan atau pebisnis atau orangtua serta hamba Tuhan, maka mereka akan bisa terjebak ke dalam keberhargaan diri yang semu. Keberhargaan diri yang semu didapatkan dari keinginan diri yang bertentangan dengan keinginan Tuhan. Ukuran prestasi yang menjadi tanda sukses pertama adalah ciri yang menjebak pada keberhagaan diri yang semua. Mari kita berperkara dengan Allah, apakah dasar keberhargaan diri kita saat ini? Sungguhkah Tuhan sudah menjadi sumber dan arti keberhargaan diri kita?
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacalah : 1 Samuel 15:4-22
- Apakah yang dilakukan Raja Saul ketika memenangkan pertempuran terhadap Amalek?
- Apakah Saul taat kepada perintah Allah yang disampaikan Samuel kepada Saul?

B.2. MERENUNGKAN (M2)
Mari berpikir secara mandalam, kenapa seorang Saul yang memiliki jabatan sebagai Raja, bisa terjebak dan melakukan pemberontakan kepada Allah, karena dalam dirinya ada motif untuk menujukkan prestasi hebatnya sebagai Raja? Menurut Anda, apakah keputusan Raja Saul Salah dengan tidak membunuh Raja Agag dan semua hewan milik Amalek bahkana hewan-hewan yang gemuk digunakan sebagai korban persembahan kepada Allah?
B.3. MELAKUKAN (M3)
Marilah belajar berpikir kritis terhadap semua hal yang menantang kita , apakah kita mau tetap bertindak atas nama Tuhan kita atau atas nama harga diri kita sendiri. Mulai di dalam hidup Anda di bidang yang seringkali menggoda Anda untuk merasa berharga karena satu dan lain hal yang bukan daripada Allah.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Kemenangan kecil karena Anda berani tampil sebagai anak Tuhan, adalah cerita paling berkesan yang dapat mengari orang lain tentang arti keberhargaan diri yang sejati.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

