14 Juli 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bilangan 13:17-33
A. PENGANTAR
Apakah kepercayaan semu? Kepercayaan adalah satu sistem keyakinan dalam berbagai hal di dalam hidup seseorang, dimana hal ini dibentuk dari beberapa hal diantaranya adalah pesan pengajaran dan pola didikan dari orangtua kepada anak yang telah terjadi dalam kurun waktu yang tidak singkat. Sebagai contoh adalah Konsep “Jika kamu sekolah sampai tingkat pendidikan yang tinggi dan bekerja di perusahaan yang terkenal, maka kamu adalah orang yang sukses”. Pesan kepercayaan yang semu adalah ukuran sukses adalah cenderung pada kepemilikan materi atau jabatan tertentu. Bagi kebanyakan orang kepercayaan ini adalah benar. Tapi bagaimana sudut pandang Alkitab terhadap kepercayaan ini?
Kepercayaan semu adalah asumsi atau anggapan yang akhirnya menjadi persepsi atau cara pandang dan cara berpikir yang keliru. Tanpa disadari bahwa informasi yang diterima dan pengalaman yang berkesan mendalam akan tertanam di memori otak manusia. Lambat laun akan mengendap dan menghasilkan suatu nilai keyakinan/kepercayaan yang semu atau palsu. Fakta menunjukkan banyak orang mempercayai kepercayaan semu daripada fakta atau realita itu sendiri. Itu sebabnya diperlukan satu sistem kepercayaan yang berada di atas semua bentuk kepercayaan atau keyakinan. Sistem kepercayaan itu adalah Firman Allah yang tertuang di dalam Alkitab. Alkitab adalah wujud dari semua pola pikir dan kehendak Allah yang diajarkan dan ditunjukkan kepada manusia, terutama bagi orang Kristen yang sunguh-sungguh mempercayai Yesus Kristus yang adalah firman Yang Hidup (Yoh 1:1-5). Tantangan anak-anak Tuhan adalah keyakinan semu, yang mana mampu mengecoh kita, dan kadang-kadang kita membiarkan saya diperdaya. Akhirnya kita memiliki pandangan dan pola berpikir yang keliru.

Dari kisah pengintaian bangsa Israel ke tanah Kanaan terlihat ada 10 orang utusan yang memiliki cara pandang yang berbeda dengan 2 (dua) orang lagi yakni Kaleb dan Yosua. Padahal semua mereka barada dalam satu komunitas yang sedang menuju tujuan yang sama. Cara pandang seseorang terhadap realita menunjukkan keyakinan yang dimilikinya. Keyakinan dibentuk dari berbagai hal. Kaleb dan Yosua membentuk keyakinannya atas dasar iman pada perjanjian Allah kepada bangsa Israel yakni bahwa mereka pasti akan menduduki Tanah Kanaan. Keyakinan diri ini terbentuk karena proses pembelajaran mereka sejak dan selama dalam perjalanan di padang Gurun menuju Tanah Kanaan. Kaleb dan Yosua adalah orang-orang yang berharga di mata Allah dan mendapatkan tanggung jawab dalam misi ini. Sedangkan 10 orang pengintai lainnya mereka memiliki fakta yang benar tetapi tidak mampu melihat dalam kepasitas sebagai bangsa yang beriman pada janji Tuhan tentang tanah Kanaan. Keyakinan mereka sebatas kenyamanan diri dan tidak berani mempercayai pertolongan Tuhan dalam menghadapi bangsa Enak di tanan Kanaan.
Kepercayaan semu diatasi dengan kepercayaan yang benar atau asli yakni kepercayaan kepada sistem kebenaran Allah yang adalah Firman Tuhan. Disiplin dalam menjalan prinsip-prinsip Alkitab adalah kunci utama menyingkirkan kepercayaan semu dan membangun harga diri sejati di dalam kehidupan nyata sehari-hari. Harga diri orang Kristen tidak ditentukan oleh rasa aman dan nyaman atau memiliki jaminan material untuk masa kini dan masa depan, tetapi ditentukan sebarapa kuat kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah yang telah termateraikan oleh Roh Kudus sampai pada kekekalan. Dengan demikian harga diri kita adalah tidak berbatas waktu dan situasi sehingga kita bisa menjadi orang-orang yang mampu menang dalam menghadapi situasi-situasi yang sulit.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacalah : Bilangan 13:17-33
- Apakah yang dilihat 10 pengintai dan apakah yang dilihat oleh 2 pengintai yakni Kaleb dan Yosua?

B.2. MERENUNGKAN (M2)
Mengapa Kaleb dan Yosua ketika melihat bangsa Enak, sebagai bangsa yang keras dan jahat, tidak menjadi takut? Dan kenapa 10 pengintai lainnya menjadi takut?
B.3. MELAKUKAN (M3)
Tatkala Anda melihat kesulitan di dalam hidup Anda, ingatlah dan lakukanlah perlawanan terhadap kesulitas tersebut dengan kesadaran bahwa Anda adalah anak-anak Tuhan yang sangat berharga dan mendapatkan jaminan untuk berhasil (Yoh 10:10). Disiplinkanlah cara berpikir seperti ini di dalam setiap situasi sulit.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Teruslah berbagi pengalaman Anda tentang keyakinan diri Anda sebagai anak Tuhan di dalam praktek sehari-hari.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

