RABU – MILIKI RASA CUKUP

10 Agustus 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Pengkhotbah 5:9-12, Ibrani 13:5

PENGANTAR

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Ibrani 13:5
Karena cinta uang banyak orang menjadi ‘gelap mata’ dan menyimpang dari kebenaran. Mereka rela melakukan apa saja demi uang, bahkan berani menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, tidak peduli apakah itu mengorbankan orang lain atau melanggar hukum

PEMBELAJARAN
MENEMUKAN (M1)

Memang harus diakui bahwa uang itu penting bagi kehidupan kita, tapi uang bukanlah segala-galanya karena banyak hal di dalam kehidupan ini yang tidak dapat diukur, dibeli dan digantikan oleh uang. Apakah uang bisa membeli sukacita, bahagia, ketenangan, apalagi keselamatan jiwa? Tentu tidak! Salomo, yang meskipun memiliki kekayaan yang melimpah, bahkan dikatakan bahwa “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23), mengakui bahwa berlimpahnya materi ternyata tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Salomo berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:9).

Ketidakpuasan ini bersumber dari cinta uang dan hati yang terfokus hanya pada kekayaan semata. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Karena cinta uang dan hati yang melekat kepada kekayaan, seseorang tidak pernah merasa cukup, sebaliknya selalu merasa kurang dan kurang. Sebanyak apa pun uang dan kekayaan yang dimiliki tidak serta merta membuat orang merasa puas dan cukup, bahkan mereka merasa tidak tenang dan tenteram. Hidup mereka dihantui rasa kurang dan kurang melulu, sehingga kehilangan rasa Bahagia. Kebahagian tidak ditentukan oleh bantal bulu angsa yang mahal, hotel bintang 5 yang mewah, pesawat jet pribadi, bahkan tidur dalam tumpukan uang triliun. Karena kebahagian hanya ditemukan dalam satu nama yaitu Yesus Kristus Tuhan.

MERENUNGKAN (M2)

Rasa puas dan rasa cukup berbicara soal sikap hati. Bila hati kita dipenuhi ucapan syukur maka di segala keadaan kita pasti bisa berkata cukup. Cukup tidak berarti kita berhenti bekerja dan berusaha, malah berpuas diri. Kita bisa berkata cukup bila kita melihat dan menikmati apa yang telah kita terima dan dapatkan, bukan pada apa yang belum kita peroleh. Rasul Paulus menasihati kita, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” * (1 Tesalonika 5:18)*. “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, Shidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12:15

MELAKUKAN (M3)

Akhirnya tanamkan dalam hati kita (pikiran dan perasaan) bahwa kita sekarang adalah orang yang kaya, karena hidup bagi Kristus yang membuat kita tenang dan di dalam Dia, semuanya menjadi cukup!

MEMBAGIKAN (M4)

Bagikan ke banyak saudara, sahabat dan orang yang disekitarmu, untuk mereka _hidup dengan sikap hati “di dalam Kristus, semua menjadi cukup” Tidak berkekurangan dan tidak kawatir!

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47