04 Juni 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Filipi 2:12-13
A. PENGANTAR
Jika semua proses keselamatan hanya dikerjakan oleh Tuhan, maka itu artinya orang percaya tidak perlu bertindak apa-apa, sebab keselamatan sudah dikerjakan oleh Tuhan sendiri, semua sudah termasuk dalam satu paket. Pemahaman atau pandangan ini bisa menyebabkan orang percaya menjadi cuek, tidak “ngotot” atau “ala kadarnya” terhadap panggilan untuk mencapai kesempurnaan yaitu serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa. Sehingga mereka tidak tahu bahwa setiap individu juga dituntut untuk bertanggung jawab (Mat 12:36, Roma 14:12, 2 Kor 5:9-10, Ibrani 4:13, 1 Petrus 3:15). Kenapa? karena merasa dirinya sudah selamat, dan sekali selamat tetap selamat.
Jika orang percaya sudah pasti selamat, lalu kenapa masih ada pertanggung jawaban yang harus diberikan oleh setiap individu dihadapan Tuhan? Tanggung jawab itu adalah respon manusia terhadap keselamatan yang Tuhan sediakan.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca Filipi 2:12-13, perhatikan terdapat 2 kata “kerja” di ayat tersebut yaitu “kerjakanlah”
yang mana itu dilakukan oleh manusia, dan “mengerjakan” yang mana itu dilakukan oleh Allah.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Kata “mengerjakan” dalam Filipi 2:13 seringkali dimaknai dengan tidak tepat, dimana dikesankan seolah-olah kalaupun manusia bisa memberi respon kepada keselamatan yang Tuhan berikan, maka itu karena intervensi Tuhan didalam batin manusia, artinya Tuhan secara sepihak menggerakkan seseorang menerima kasih karunia atau anugerah keselamatan. Jadi semua dikerjakan oleh Tuhan tanpa ada peran manusia sama sekali. Benarkah demikian?
Kata “kerjakanlah” dalam bahasa aslinya adalah “katergazomai” yang merupakan kata perintah yang artinya juga menyelesaikan (to finish, work out), mencapai (achieve, accomplish). Sedangkan kata “mengerjakan” dalam Filipi 2:13 bukanlah “katergazomai”, tetapi “energon” yang bisa berarti to be operative (bisa digunakan), put forth power (menaruh atau memberikan daya), to work for one, aid one (mengerjakan atau membantu seseorang). Perbedaan kata ini bisa menjelaskan bahwa manusialah yang harus menyelesaikan dan Allah yang memberi daya (mendorong). Bagaimana seseorang bisa dibantu jika ia tidak mengerjakannya sama sekali? Jadi, meresponi keselamatan atau anugerah Allah adalah bagian yang harus dipenuhi oleh setiap orang percaya itu sendiri. Jika orang percaya mengerjakan keselamatan dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membantu mengerjakan dalam arti kooperatif. Inilah bentuk intervensi dari Allah terhadap keselamatan manusia yang mana tidak melanggar kehendak bebas manusia yang diciptakan bukan seperti robot yang tidak bisa menolak setiap perintah dari penciptanya. Allah tahu bahwa dengan kekuatan sendiri manusia tidak akan bisa, tetapi bersama dengan Dia semuanya menjadi mungkin. Karena itulah Allah memberikan dorongan/daya kepada setiap orang yang mau meresponi anugerah keselamatan dengan sungguh-sungguh.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Kasih karunia atau anugerah Tuhan sudah sangat cukup bagi keselamatan manusia, tidak perlu ditambah lagi dengan apa pun. Juga benar, bahwa manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi hanya oleh anugerah penebusan Tuhan Yesus dikayu salib seseorang dapat diselamatkan, tetapi tanpa menyambutnya (respon), maka tidak akan ada keselamatan dalam hidup seseorang. Respon itu adalah mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Filipi 2:12).
Kenapa harus dengan takut dan gentar? Karena perjuangan mengerjakan keselamatan itu bukanlah hal yang mudah. Kata “takut” bahasa aslinya adalah phobos yang menunjuk ketakutan yang hebat, ketakutan seperti di teror. Sedangkan kata “gentar” bahasa aslinya adalah tromos yang lebih berarti gemetar (trembling). Hal ini menunjukkan betapa sulitnya untuk mengerjakan keselamatan itu. Biasanya untuk sesuatu yang membuat kita sangat takut dan gemetar, salah satunya karena kita melihat potensi atau kemungkinan untuk gagalnya besar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus selalu mengingatkan kita untuk fokus. Hanya bisa mengabdi kepada satu tuan, tidak bisa tidak. Sekali kita mengabdi kepada yang lain selain Tuhan, maka kita akan gagal.
Mengerjakan keselamatan itu bukanlah sesuatu yang sederhana. Bukan hanya pengucapan dimulut saja. Tetapi harus diikuti dengan tindakan yang konkret atau nyata. Kita bisa belajar pada iman Abraham yang merupakan salah satu tokoh perjanjian lama yang hidupnya tidak berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani saja. Abraham meresponi anugerah sebagai tanggung jawab dengan meninggalkan Urkasdim, kenegeri yang dia sendiri belum pernah lihat, dan sampai dengan dia diminta untuk mempersembahkan anaknya sendiri, itu adalah bentuk respon yang konkret. Demikian juga orang percaya harus berani melepaskan segala sesuatu untuk meresponi anugerah Tuhan (Lukas 14:33).
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Mari saling meneguhkan saudara seimanmu dengan membagikan kebenaran yang engkau dapatkan.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

