JUMAT – MENGIKUTI TUHAN DARI JAUH

05 April 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Matius 26:57-75

Ketika Tuhan Yesus ditangkap dan dibawa ke rumah Imam Besar, Petrus mengikuti Tuhan dari jauh. Kita tidak tahu persis mengapa atau alasan Petrus melakukan itu. Mungkin, Petrus ketakutan ketika menyadari bahwa yang ia hadapi adalah Mahkamah Agama Yahudi. Maka, ketika Tuhan dibawa ke rumah Imam Besar, Petrus berjalan mengikuti Tuhan. dari jauh, agar tidak dicurigai atau dianggap sebagai bagian dari kelompok Tuhan Yesus. 

Kisah dan tindakan Petrus itu bagaikan cermin atau refleksi diri yang menolong kita untuk melihat ke dalam diri kita . Kita bisa menjadi seperti Petrus, “mengikuti Tuhan dari jauh”. Alasan kita? Banyak—menghindari konsekuensi dari situasi yang sedang terjadi, takut, kecewa, dan sebagainya. Intinya: kita mempunyai kepentingan sendiri, apa pun itu, dan demi kepentingan itu, kita “mengikuti Tuhan dari jauh”. 

Berawal dari mengikuti Tuhan dari jauh, kemudian Petrus menyangkal Tuhan. “Mengikuti Tuhan dari jauh” adalah benih potensial yang siap tumbuh menjadi pohon penyangkalan. Bahkan, ini adalah wujud awal penyangkalan itu sendiri.  dan jika membaca perikop renungan ini terus, pohon penyangkalan itu kemudian berbuah dalam bentuk penyangkalan pada Yesus.

Dengan “mengikuti Tuhan dari jauh”, Petrus bertindak “seakan-akan” ia tak hendak meninggalkan Tuhan. Tapi “Mengikuti Tuhan dari jauh” mudah memberi kesan “seakan-akan” kita setia kepada Tuhan meskipun sebenarnya tidak. Dalam masyarakat yang gampang terpukau pada kulit luar, sikap ini sangat menggoda. Mengapa? Karena “mengikuti Tuhan dari jauh” adalah kamuflase yang efektif untuk menyembunyikan ketaksetiaan dan penyangkalan kita.

 Banyak kita tidak mau dikatakan sebagai orang yang meninggalkan Yesus, tetapi kita juga tidak mau hidup dekat (akrab atau intim) dengan Yesus. Kita lebih menyukai menjadi Kristen yang biasa-biasa saja, “tidak dekat dan juga tidak jauh”. Buktinya kita masih mau disebut sebagai orang Kristen tetapi untuk melayani lebih dalam, kita biasanya menghindar.

REFLEKSI DIRI
Rupanya, kita harus waspada dan jujur menilik hati kita yang paling dalam, dan dengan tegas mendidik nurani kita. Apakah kita mengikuti Tuhan dari jauh?”atau kita sungguh-sungguh mengasihi Dia?”

HIKMAT HARI INI
Tuhan tidak menghendaki kita mengikuti-Nya hanya dari jauh, Dia ingin merengkuh dan menyertai kita selama-lamanya.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4