15 Agustus 2024
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Keluaran 20 : 1-6
Lalu Allah mengucapkan segala firman ini : 20:2 “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. 20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 20:5 Jangan sujud menyembah j kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya , kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu n orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Apa kesan Anda ketika mendengar kata “cemburu”?_ Bagaimana bila ada yang menyebut Anda sebagai orang yang suka cemburu? Apakah Anda menangkapnya sebagai _pujian atau celaan?_ Pada umumnya, kita menganggap kecemburuan sebagai hal yang _negatif_. Di sinilah kesulitannya saat kita membaca pernyataan Alkitab bahwa Allah adalah pribadi yang cemburu.

Bagaimana seharusnya kita memahami kecemburuan Allah?_ Sesungguhnya, kecemburuan Allah berbeda jauh dari kecemburuan manusia. *Pertama*, kecemburuan Allah adalah tanda dari cinta-Nya yang murni dan kuat _(passionate)_ kepada kita. Perhatikan ayat 2, Allah menyebut diri-Nya sebagai _“Allahmu”_ untuk menunjukkan relasi yang istimewa antara Allah dan umat-Nya* yang berdasarkan cinta (kasih)-Nya kepada mereka. *Kedua*, kecemburuan Allah justru bagi kebaikan kita. Dia menyatakan diri-Nya sebagai pencemburu dalam konteks perintah pertama dan kedua yang intinya adalah kita harus menyembah Dia saja (ay. 2–5). Sepintas, Allah terkesan _”narsistik dan possessive”_. Namun, perintah ini sebenarnya demi kita. Sebagai ciptaan-Nya, kita akan menemukan kepuasan, kepenuhan, dan kebahagiaan terbesar hanya di dalam Dia. Saat kita berpaling pada ilah-ilah lain maka kita sedang menyengsarakan dan merusak diri sendiri karena menjauh dari Sang Sumber Kehidupan yang sejati.
Mari lihat kecemburuan Allah dari kacamata kasih-Nya yang besar kepada kita. Kasih-Nya yang sepenuhnya berpihak bagi kebaikan kita. kasihNya yang hanya berfokus pada kita (passionate). Kiranya kecemburuan Allah ini membangkitkan rasa syukur dalam diri kita bahwa kita begitu disayangi-Nya.
So kecemburuan atau sikap “posesif” Allah adalah peringatan penuh cinta supaya kita tidak mendua atau memberhalakan hal lain yang akan membinasakan kita
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo

