22 Juli 2021
By : Hendrik Yulianto
Yohanes 8:31
A. PENGANTAR
Dalam Yohanes 8:31, Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya jika kita tetap dalam firmanNya maka kita benar-benar adalah muridNya. Lalu apakah yang dimaksud dengan “tetap”? apakah cukup dengan tetap menjadi orang yang beragama Kristen sampai dengan akhir hayat? Atau seperti apa? Jika kita baca Matius 7:21, kita akan ngeri membayangkannya karena ternyata tidak semua orang yang berseru kepadaNya Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau kita renungkan, pastilah hanya orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan saja yang memanggil Yesus itu Tuhan. Orang yang tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, tidak mungkin memanggil Dia Tuhan. Artinya, ayat di Matius 7:21 bicara tentang orang yang beragama Kristen, karena umumnya orang yang beragama Kristenlah yang memanggil Dia Tuhan. Orang diluar agama Kristen tidak mengakuiNya sebagai Tuhan apalagi memanggilNya Tuhan, paling bagus hanya mengakui Yesus sebagai nabi itu pun dengan versi kitab mereka bukan berdasarkan versi Alkitab. Jadi kita harus jujur mengakui bahwa ayat dalam Matius 7:21 ini adalah bicara tentang orang Kristen. Artinya kita tahu bahwa tidak cukup hanya dengan menjadi orang beragama Kristen untuk bisa masuk dalam kerajaan Sorga dan tidak cukup hanya dengan mengakuiNya sebagai Tuhan saja. Melainkan kita harus tetap dalam FirmanNya. Jika kita tetap dalam FirmanNya maka kita benar-benar adalah muridNya.
Kata “Tetap” bisa diartikan tidak berangkat (mengacu pada tempat), untuk terus menjadi/bertahan (mengacu pada waktu), dan tetap menjadi satu atau tidak menjadi yang lain/berbeda (mengacu pada kondisi). Dalam apapun kondisinya, kapanpun waktunya dan dimanapun berada harus tetap dalam FirmanNya, yang artinya tetap konsisten meneladani hidup Tuhan Yesus. Nah yang menjadi masalah adalah kebanyakan orang sudah merasa puas dengan hanya dia beragama Kristen, tetap ibadah minggu, ikut komsel bahkan mungkin melayani. Meskipun itu semua bagus dan bisa saja menjadi ukuran apakah seseorang sungguh-sungguh atau tidak menjadi pengikut Kristus, tapi itu semua tidak selalu mutlak bisa menjadi ukuran karena yang paling penting adalah apakah dalam keseharian kita (segala kondisi dan situasi), kita mempraktekkan gaya hidup Tuhan Yesus? Bisa saja seseorang rajin ke gereja dan ibadah tapi ternyata kesehariannya menyakiti hati Tuhan, kasar dengan istri, pikirannya tidak kudus, tidak mau membantu keluarga yang kesusahan, tidak menghormati orang tua, tidak jujur dalam usaha, sombong dsb.

Jika dalam kesehariannya masih seperti itu, berarti dia belum benar-benar tetap dalam Firman-Nya. Memang terkadang bisa saja kita gagal, tapi Allah tidak bisa dipermainkan. Dia tahu mana orang yang benar-benar tulus ingin berubah, dan mana yang oportunis yang berubah hanya supaya hidupnya diberkati ataupun terhindar dari kesusahan-kesusahan hidup.
Lalu jika standarnya seperti Tuhan Yesus, bukankah itu sangat mustahil untuk dilakukan?siapa yang bisa? Ya sangat mustahil untuk manusia, tapi tidak bagi Allah. Karena itu Tuhan Yesus juga berkata belajarlah kepada-Ku. Jadi selama kita mau belajar kepada sang empunya teladan, mau rendah hati diubahkan, dan memiliki tekad untuk mengikuti Dia segenap hati dan hidup suci maka melalui Roh Kudus kita akan dimampukan untuk bisa mengikuti teladan-Nya.
PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca Yohanes 8:30-31 dan temukan :
- Apa Yesus mengatakan sesuatu kepada orang Yahudi yang percaya kepada-Nya?
- Apa yang Yesus katakan?
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Jika kita baca Yohanes 30-31, kita tahu Tuhan Yesus tidak begitu saja puas dan percaya ketika banyak orang percaya kepadaNya termasuk orang-orang Yahudi. Jika ya, tentunya Yohanes pasal 8 ini hanya akan berhenti sampai dengan ayat 30 saja. Tapi Tuhan Yesus memberi penegasan lagi di ayat 31 yaitu jika benar-benar ingin menjadi muridNya, maka ada harga yang harus dibayar yaitu tetap didalam Firman-Nya. Dan jika kita baca ayat-ayat selanjutnya, kita akan mendapati bahwa mereka (orang-orang yang percaya kepadaNya di ayat 30) mulai tidak nyaman ketika Tuhan Yesus menjelaskan lebih detail lagi tentang keadaan mereka. Mereka masih tetap tidak mau melepaskan kepercayaan mereka yang salah yang mana sebenarnya memperlihatkan bahwa mereka tidak benar-benar percaya kepada Nya.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun hendaknya kita terus berpegang teguh kepada perkataanNya. Kita belajar untuk terus meneladani hidupNya, sekalipun itu berat dan butuh perjuangan. Sekalipun itu tidak nyaman, sekalipun sepertinya dimata manusia kita gagal tapi asalkan dimata Tuhan kita tidak bercela dan menyenangkan hatiNya itu sudah cukup bagi kita.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Bagikan kepada saudara seiman/rekan komsel kesaksian anda berkaitan dengan topik hari ini.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

