SABTU – PEMBAHARUAN AKAL BUDI

23 Oktober 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor

A. PENGANTAR

Mari kita perjelas apa yang sudah kita pelajari kemarin. Kemarin kita sudah belajar bahwa setan pun tahu dan punya pengetahuan tentang Allah Yang Mahatinggi. Oleh karena itu kita tidak boleh berhenti hanya sampai dengan tahu saja, melainkan kita harus sampai dengan tahap mengerti. Dan mengerti kaitannya dengan pembaharuan akal budi (Ulangan 29:14, Roma 12:2). Pembaharuan akal budi berarti mengalami perubahan cara pandang/menilai dan cara berpikir/pola pikir. Dan perubahan perilaku diawali dengan perubahan pola pikir atau cara pandang kita. Pembaharuan akal budi berarti kita harus memiliki cara berpikir yang baru. Segala sesuatunya baru dan semua itu bersumber dari cara berpikir kita.
Seseorang yang merokok, bukan karena dia tidak tahu merokok itu sangat tidak menyehatkan. Apalagi iklan rokok saat ini sudah disertai dengan peringatan yang sangat berterus terang dengan menyertakan gambar yang sangat jelas dari masalah penyakit yang ditimbulkan oleh rokok. Jadi sangat mustahil untuk saat ini orang tidak tahu bahaya dari rokok. Tetapi kenapa mereka masih tetap merokok? Bahkan saat mereka sudah terbatuk-batukpun, seringkali mereka tidak bisa berhenti. Semuanya itu karena akal budi mereka belum mengalami pembaharuan. Sudut pandang dan cara berpikir mereka belum berubah. Sudut pandang mereka tidak berubah, baik itu tentang kesehatan yang ditimbulkan, tentang keuangan, tentang menyayangi keluarga yang berarti juga salah satunya memastikan dirinya tetap sehat dan sebagainya.
Pembaharuan akal budi tidak sama dengan pembaharuan pengetahuan. Pengetahuan bisa bertambah, tapi pertanyaannya apakah sudut pandang kita berubah? Ini yang paling penting. Jika sudut pandang kita tidak berubah, maka percuma saja pengetahuan kita bertambah.
Kita bisa mencari di Alkitab dengan cepat apalagi dengan Alkitab digadget kita tentang seperti apa Allah Yang Mahatinggi itu. Kita bisa baca di Mazmur 47:2, Mazmur 78:35, Mazmur 83:18, Mazmur 97:9, dst.

Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah itu mengubah sudut pandang kita? mengubah cara berpikir kita? tentu berubah yang dimaksud adalah berubah kepada cara berpikir dan sudut pandang seperti yang Allah kehendaki.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Roma 12:2, Allah memerintahkan kita agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, hidup berlawanan dengan dunia ini, tidak mengikuti cara-cara dunia, tidak memiliki pola pikir dunia. Bagaimana caranya?tidak lain hanya dengan mengalami pembaharuan akal budi, mengalami perubahan sudut pandang dan pola berpikir.
Lalu apa ukurannya kita sudah mengalami perubahan pola pikir/sudut pandang?Ukurannya adalah kita semakin dapat membedakan mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Mari renungkan masing-masing, apakah banyaknya pengetahuan yang kita punya tentang Allah sampai dengan saat ini sama banyaknya (berbanding lurus) dengan perubahan hidup yang kita alami?

B.3. MELAKUKAN (M3)

Bagaimana agar kita bisa mengalami pembaharuan akal budi yang konsisten? Kita harus rutin memeriksa isi pikiran kita. Seringkali kita orang percaya hanya fokus memperhatikan perilaku. Apakah ada perbuatan yang salah atau menyimpang? Apakah ada kata-kata yang salah yang sudah diucapkan? Inilah yang seringkali kita perhatikan. Tapi kita jarang sekali memperhatikan apakah cara berpikir kita sudah benar atau belum? Kita jarang sekali memeriksa isi pikiran kita. Padahal pikiran kita adalah diri kita yang sesungguhnya. Contoh, jika kita tidak terlalu menyukai seseorang, kita bisa tetap berkata-kata sopan atau berperilaku manis kepada orang tersebut. Tapi bagaimana isi pikiran kita sebenarnya terhadap orang itu adalah yang terpenting. Manakah diri kita yang asli? Yang diluar atau yang didalam?

Kita harus rutin memeriksa isi pikiran kita, entah itu dalam waktu-waktu khusus seperti doa, saat teduh, meditasi atau bahkan ketika kita sedang melakukan kegiatan yang lain atau saat bekerja. Lalu kita cari kebenaran dari isi pikiran kita tersebut dalam doa, dalam pembacaan FT, dalam persekutuan dengan Tuhan. Contoh sederhan yang saya alami misalnya, selama ini saya berpikir tentu kalau saya punya usaha diluar pekerjaan saya saat ini maka itu akan bagus untuk saya. Akan membuat saya aman secara keuangan jika terjadi sesuatu dengan pekerjaan saya, dan juga tentu jika saya punya usaha maka saya akan bisa sewaktu-waktu keluar dari pekerjaan dan bisa sepenuhnya fokus melayani Tuhan. Secara logika manusia, itu sebuah rencana yang bagus dan masuk akal. Namun ketika saya merenungkan semuanya itu, sebuah nasihat muncul dalam hati saya bahwa jika saya melakukannya saat ini maka akan banyak sekali hal yang menyita pikiran saya yang pada akhirnya akan banyak hal juga yang saya korbankan. Nasihat itu membuat sudut pandang saya berubah. Keinginan itu tetap ada, tapi saya tidak lagi “ngotot” dengan waktunya dan lebih santai. Saya harus menunggu waktu yang tepat ketika semuanya siap. Dan kalaupun nantinya memang Tuhan tidak ijinkan, itu juga tidak menjadi masalah. Karena yang terpenting adalah apakah hidup kita berkenan atau tidak, terlepas apa yang kita punyai atau tidak kita punyai.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saling berbagi kesaksian dan saling menguatkan lah diantara saudara seiman tentang topik renungan hari ini.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47