SELASA – DAMAI DITINGKAT ROHANI

29 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Matius 5:8-9, Markus 7:21-23

A. PENGANTAR

Yesus mengatakan berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Lalu pertanyaannya adalah damai yang seperti apa? Membawa damai yang bagaimana?apakah maksudnya jika ada 2 orang bertengkar lalu kita berdiri ditengah-tengah mereka dan berbicara kepada mereka agar jangan bertengkar dan berusaha mendamaikan mereka? Apakah berarti maksudnya kita tidak boleh menjadi seorang tentara atau angkatan perang karena kita adalah seorang yang cinta damai? Apakah sesederhana itu?

Waktu jaman Yesus, Israel sedang dijajah oleh Romawi. Tapi jika kita baca disepanjang perjanjian baru kita tidak mendapati Yesus secara langsung menyuarakan kepada pemerintah Romawi tentang kedamaian ataupun kemerdekaan bangsa Israel. Kita juga tidak mendapati Yesus aktif bergabung dalam kelompok-kelompok yang menyuarakan perdamaian Israel dengan Romawi. Atau murid-murid Yesus berbaris menghalangi prajurit Romawi yang sedang menuju Yerusalem dan berteriak damai,damai damai!

Begitu juga saat dijaman para rasul atau gereja mula-mula, dimana saat itu masih terdapat perbudakan. Namun kita tidak mendapati Paulus, Petrus atau rasul-rasul yang lain pergi dan mengatakan kepada semua orang atau dengan membentangkan spanduk agar semua orang berdamai dan tidak menindas yang lain dan agar mereka menghapus perbudakan.

Jadi apakah berarti Yesus dan rasul-rasul bukan seorang yang membawa damai? Apakah mereka tidak peduli dengan masalah-masalah politik atau sosial?

PEMBELAJARAN

B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Markus 7:21-23 dan temukan dari manakah segala masalah timbul? Masalah-masalah politik dan sosial ada karena adanya masalah dari hati manusia yaitu keserakahan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, dsb.

Kemudian mari baca lagi Matius 5:8-9. Sudahkah anda menemukan benang merah antara hati yang suci dengan menjadi orang yang membawa damai seperti yang sudah kita pelajari kemarin?

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Yesus tidak secara langsung menyuarakan perdamaian antara bangsa Israel dengan Romawi bukan karena tidak peduli dengan masalah politik atau sosial yang sedang terjadi saat itu. Begitu juga dengan Paulus dan rasul-rasul lain tidak secara langsung menyuarakan kepada banyak orang tentang menghapus perbudakan bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena mereka tahu bahwa akar masalahnya adalah didalam hati manusia. Kekacauan politik dan sosial adalah gejala dari sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu hati manusia. Karena itu Yesus dan juga rasul-rasul tidak mau hanya berurusan atau mengobati gejalanya saja, melainkan mereka berurusan dengan akar masalahnya yaitu hati manusia dengan jalan memberitakan Injil agar hati manusia diubahkan. Seiring dengan menyebarnya Injil, perbudakan pun hilang dengan sendirinya. Karena jika hati manusia telah diubahkan, tidak lagi seseorang bisa menindas orang yang lainnya.

Jadi kita tahu bahwa damai yang dimaksud oleh Yesus bukanlah damai secara sosial atau politik, melainkan damai secara rohani yang bisa tercapai jika ada pendamaian antara manusia dengan Allah dan ditandai dengan hati yang diubahkan. Jika kita ingin menangani masalah, kita harus langsung menangani akar permasalahannya, yaitu hati manusia yang telah rusak. Jika hati manusia telah disembuhkan, maka semua gejalanya akan hilang. Kita bisa menangani gejalanya, tapi jika kita kita tidak menangani akar masalahnya maka dikemudian hari gejalanya akan timbul kembali. Sama seperti sakit kepala kita meminum obat parasetamol, kita sedang menangani gejalanya bukan penyakit yang menyebabkan rasa sakit itu. Jadi membawa damai berarti tujuan akhirnya bukan hanya menangani gejalanya saja, tapi harus sampai kepada akar masalahnya. Orang Kristen akan menangani masalah di tingkat hati. Karena itu kenapa Yesus juga memulainya dari “Berbahagialah orang yang suci hatinya” sebelum kita menjadi seorang pembawa damai. Karena jika kita sendiri sebagai pembawa damai hatinya tidak beres, bagaimana mungkin kita bisa membereskan masalah hati orang lain? Hanya setelah terjadi perubahan ditingkat rohani maka akan terjadi perubahan pula ditingkat sosial dan politik.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Memang baik jika kita memiliki kepedulian dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, atau politik yang terjadi, namun kita mengerti sekarang bahwa kita harus menangani masalah di tingkat hati bukan hanya gejalanya saja. Yaitu dengan jalan memberitakan Injil. Namun memberitakan Injil jangan hanya dimaknai secara sempit dengan melakukan penginjilan yang secara frontal menceritakan tentang Yesus dan menantang orang menerima Dia sebagai Tuhan dan juruselamat.

Memberitakan Injil juga berarti menjadi surat Kristus yang terbuka. Sebagai seorang pembawa damai, kita sendiri harus menampilkan kehidupan yang menunjukkan bahwa kita sendiri sudah mengalami pendamaian dengan Allah itu. Pasti anda sudah sering mendengar kalimat ini, *tindakan berbicara lebih keras daripada perkataan*. Apa yang orang lain lihat dari tindakan dan ucapan kita akan mempengaruhi penerimaan orang tersebut terhadap apa yang kita bawa kepada kehidupan mereka termasuk Injil.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Diskusikan dan ceritakan dengan rekan komsel/pelayanan bagaimana pemahamanmu tentang renungan hari ini dan rencana untuk melakukannya.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47