SELASA – YANG DUDUK MAKAN ATAU YANG MELAYANI?

29 Maret 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Filipi 2:3, Lukas 22:23-27

PENGANTAR

Paulus dalam Filipi 2:3 menasehati jemaat untuk dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Atau dalam terjemahan lain menganggap yang lain lebih baik dari pada dirinya sendiri. Sekarang coba sejenak, kita bayangkan atau tanyakan dalam diri kita masing-masing apa contohnya yang pernah kita lakukan didalam hidup kita yang berpegang pada prinsip mengutamakan orang lain lebih utama dari pada diri kita sendiri. Jika dalam keluarga terutama kepada orang tua mungkin kita sering melakukannya. Tapi ketika di dalam komunitas entah itu ditempat kerja, lingkungan atau bahkan gereja seberapa sering kita melakukannya?

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Filipi 2:3, Lukas 22:23-27
Paulus seorang murid Kristus dan juga seorang rasul, menasehati jemaat di Filipi agar menganggap seorang yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.

Tapi dalam Lukas 22:23-27, kita juga mendapati murid-murid Kristus dan juga rasul-rasul (karena mereka saat itu sudah ikut juga memberitakan Injil) mereka mempertentangkan siapa yang lebih besar dan lebih utama diantara mereka. Jauh dari prinsip yang Paulus nasehatkan, menganggap seorang yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.
Puji Tuhan, rasul-rasul tersebut akhirnya bisa berubah karakternya terbukti mereka Tuhan percayakan menjadi pendiri jemaat mula-mula dimana gereja Yesus Kristus yang ada diseluruh dunia saat ini berasal.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Apakah anda kesulitan mengingat-ingat seberapa sering anda berpegang pada prinsip menganggap seorang lebih utama daripada diri anda sendiri? Jika iya, anda tidak sendiri. Kecenderungannya, sebagian besar orang bahkan termasuk orang Kristen dan pelayan Tuhan juga sama. Jarang sekali kita mempraktekkan hal ini. Bahkan dalam bacaan kita hari ini juga kita sudah belajar bahwa bahkan murid-murid Yesus yang pertama pun pernah berada dalam situasi dimana karakter mereka sangat egosentris, ingin menjadi yang pertama, yang lebih besar, yang lebih baik, yang lebih dianggap dari pada orang lain.
Mungkin kita juga kesulitan untuk membayangkan bagaimana praktisnya untuk mempraktekkan cara hidup yang demikian (menganggap seorang yang lain lebih utama daripada diri kita sendiri)? Dibacaan kita hari ini juga Yesus mengajarkan kita sebuah prinsip yang sama dengan yang Paulus ajarkan tetapi lebih mudah untuk kita bisa dibayangkan dan dijadikan sebuah pegangan. Yaitu prinsip yang duduk makan atau yang melayani?. Yang duduk makan dengan yang melayani tentu lebih besar daripada yang melayani, jika menurut cara pandang dunia. Tetapi cara pandang Allah berbeda, yang melayani lebih besar daripada yang duduk makan.

Dan Yesus sendiri memberikan teladan bahwa Ia datang kedunia bukan untuk menjadi yang duduk makan, melainkan menjadi pelayan yang melayani. Prinsip inilah yang seharusnya kita jadikan landasan didalam kita berjemaat, didalam pelayanan. Bisa dibayangkan jika semua orang mempunyai prinsip seperti ini? Tidak mungkin jiwa-jiwa tidak datang kepada Tuhan jika mereka melihat kehidupan yang seperti ini.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Jika murid-murid Yesus bisa berubah dari memiliki karakter yang egosentris, menjadi memiliki karakter yang melayani maka kita pun bisa berubah. Tidak ada kata terlambat. Hari ini jika kita menyadari bahwa kita masih sering egosentris, maka ini saatnya kita ambil komitmen untuk kita berubah.
Mulai sekarang, ketika kita melakukan pelayanan entah digereja, dikomunitas, atau dimanapun kita berada kita memegang prinsip sebagai yang melayani bukan yang duduk makan. Kita tanyakan dalam diri kita masing-masing apakah yang sedang saya lakukan ini saya sedang menjadi orang yang duduk makan atau menjadi orang yang sedang melayani?

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Bagikan dan ajak rekan komsel/pelayanan untuk terus mempraktekan prinsip yang duduk makan atau melayani?

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47