JUMAT – MERENDAHKAN DIRI=TAAT SAMPAI MATI

01 April 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Filipi 2:8

A. PENGANTAR

Kita mungkin selama ini berpikir atau menganggap bahwa merendahkan diri hanyalah perkara yang berkaitan dengan perasaan saja. Kita berpikir merendahkan diri cukup dengan berdoa dengan perasaan hancur atau dengan perasaan bahwa kita ini tidak mampu jika bukan karena Tuhan, dengan perasaan yang mengandalkan Tuhan saja, dst. Apalagi jika ditambah dengan puasa. Kita menganggap sudah merendahkan diri. Atau kita berpikir merendahkan diri itu kita menjadi orang yang sikapnya rendah hati, low profile, tidak mau dipuji-puji, dsb. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu, selama memang dilakukan dengan tulus.

Namun hendaknya kita tidak berpikir dengan melakukan semuanya itu berarti kita sudah merendahkan diri. Mari kita lihat teladan yang Yesus lakukan dan Paulus menasehati kita untuk mengikuti teladan Nya.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari kita baca Filipi 2:8
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (TB)

Yesus menjadi manusia saja sudah merupakan proses merendahkan diri yang luar biasa, dikatakan itu adalah proses pengosongan diri. Lalu dalam keadaan Nya sebagai manusia, Dia masih merendahkan diri Nya lagi dengan jalan taat kepada apa yang menjadi kehendak Bapa bahkan taat sampai mati, matinya pun bukan mati yang terhormat tetapi mati disalib.

Apa yang membuat manusia berbeda dengan makhluk hidup lain? Free will/kehendak bebas. Dan kehendak bebas inilah yang sukar sekali untuk dikekang oleh manusia. Saat Yesus menjadi manusia apakah Dia juga punya kehendak bebas? Ya punya, jadi sebenarnya Yesus juga punya kesempatan untuk tidak taat kepada Bapa. Jadi yang dilakukan Yesus bukanlah sebuah drama atau settingan. Bukan karena Dia Tuhan yang menjadi manusia, lalu Dia pasti akan menuruti kehendak Bapa. Tidak! Yesus juga punya kehendak bebas, tapi Dia memilih taat kepada Bapa dan bahkan taat sampai mati dikayu salib. Ini adalah proses merendahkan diri yang sangat-sangat luar biasa dari Yesus. Tidak heran jika diayat selanjutnya di Filipi 2:9 dikatakan Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada Nya nama diatas segala nama.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Dalam terjemahan lain Filipi 2:8 dikatakan bahwa Yesus sebagai manusia, Dia merendahkan diriNya dengan menjalani kehidupan yang sangat patuh, sampai mati. Artinya bahwa kita bisa dikatakan benar-benar merendahkan diri jika kita menjalani kehidupan yang sangat patuh kepada kehendak Bapa, sampai mati.

Mati disini bukan hanya mati secara fisik (meninggal), tapi juga secara kedagingan, keinginan, hawa nafsu, dan segala hal yang tidak berkenan kepada Allah. Orang bisa saja mati secara fisik (meninggal), tapi sampai akhir hidupnya kedagingannya masih hidup, hawa nafsunya masih menguasai, keinginan dunia masih menjadi yang utama. Jika seperti ini, percuma saja dia mati karena berarti dia mati dalam ketidaktaatan. Sangat tragis, jangan sampai kita seperti ini. Sebaliknya orang juga bisa saja masih hidup secara fisik, tetapi kedagingan tidak lagi menguasai, keinginan-keinginan dunia tidak lagi ada dalam hidupnya, dengan demikian hidupnya bukannya dia lagi tapi Kristus yang hidup didalam dia.

Jadi merendahkan diri adalah sebuah proses panjang yang harus kita lalui seumur hidup kita.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Jadi mari kita hidup dalam semangat dan komitmen untuk hidup dalam perendahan diri kepada kehendak Bapa sampai kita mati secara fisik (meninggal). Tetapi juga selama kita hidup, kita mematikan segala kedagingan, hawa nafsu, menjauhi dunia dan segala keinginannya. Sehingga yang hidup dalam kita bukannya kita lagi melainkan Kristus. Inilah yang disebut merendahkan diri dibawah tangan Tuhan yang kuat (1 Petrus 5:6).

Memang terdengar seperti ambisius atau mungkin idealis, tapi memang seperti itulah adanya jika kita ingin imengikuti teladan Yesus. Saat orang dunia mereka punya uang banyak, mereka bisa menghamburkannya dengan bebas mengikuti keinginan mereka, kita tidak bisa. Kita harus mendengarkan suara dan keinginan Tuhan, kemana dan untuk apa uang itu Tuhan ingin untuk kita gunakan. Ketika orang dunia mereka bisa meluapkan emosinya dengan cara dan keinginan mereka sendiri, kita tidak bisa. Kita harus bertanya kepada Tuhan, apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti itu. Dan masih banyak contoh lainnya yang kita harus lebih memilih taat kepada Allah daripada kepada keinginan kita sendiri.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saling berbagi ceritalah dan saling menguatkan dengan rekan komsel/saudara seiman tentang topik renungan hari ini.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47