29 Agustus 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: 1 Petrus 3:13
PENGANTAR
Frase “orang Samaria yang murah hati” kemudian menjadi ungkapan sehari-hari bagi seseorang yang mau atau bersedia menolong orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya dan berlatar belakang lain (suku, agama, latar belakang social dan politik). Tetapi diluar itu semua, selain pesan untuk kita senantiasa berbuat baik, ada pelajaran lain yang penting yang dapat diambil dan konstektual kisah ini yaitu melakukan kebaikan atau kebenaran dengan motif kasih yang tulus atau Kasih Allah.
MENEMUKAN (M1)
Ada beberapa poin penting dari renungan ini yang dapat menjadi pelajaran seiring berubahnya jaman, dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang terus berkembang. Beberapa poin yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut :
- Bahwa Memahami Sebuah Kebenaran, Belum Tentu Bersedia Melakukan Kebenaran Itu sendiri (sekedar teori)
- Mulut berbicara kebenaran tetapi tidak menjamin orang berhati benar
- Aktif Melayani bukan berarti taat firman Tuhan

MERENUNGKAN (M2)
Dalam renungan dalam kitab Lukas 10, semua orang tahu dan yakin bahwa sang ahli Taurat dan Orang Lewi sangat paham dan menguasai isi kitab suci. Sang ahli taurat terbukti dengan lancar bisa mengutip dengan benar hukum yang utama, yang merangkum hukum-hukum yang lainya. Tetapi ketika dia diminta menerapkan apa yang diketahuinya dia kemudian berkelit. Sambil berkata “Siapakah sesama manusia? katanya, untuk membenarkan diri *(ayat 29).
Dalam kehidupan sehari-hari, bisa jadi seseorang sudah mendengar bahkan memahami kebenaran itu. Dan mungkin saja sudah mendengarnya berulang kali. Namun pada prakteknya tidak pernah melakukanya. Yang terjadi adalah selalu berkelit dan mencari pembenaran diri. Kebenaran yang dimaksud tidak saja hanya yang berasal dari Alkitab. Tetapi juga kebenaran moral dan etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sering kali terjadi adalah kita piawai dalam menjelaskan kebenaran itu, tapi miskin implementasi. Sebab, memahami sesuatu belum tentu bersedia melakukannya.
MELAKUKAN (M3)
Dalam konteks kekinian, keterlibatan aktif dalam sebuah pelayanan tidak selalu berarti seseorang yang taati firman Tuhan. Sama halnya dengan seorang Imam dan suku Lewi didalam cerita diatas. Ketika diperhadapkan dengan kebutuhan sesamanya, sama-sama tidak mau mempraktekkan kebenaran yang mereka ketahui dan beritakan. Bisa saja mereka takut menolong orang yang sama sekali tidak mereka kenal. Atau, bisa jadi mereka sedang sibuk melakukan pelayanan. Sehingga tidak sempat untuk menolong. Tetapi seorang Imam dan suku Lewi adalah kelompok yang dikhususkan untuk melayani bait Allah dan jemaat. Mereka paham betul tentang hukum-hukum Allah. Dan mereka selalu memperkatakan kebenaran itu didepan umat Allah. Namun apa yang terjadi berdasarkan cerita itu? Seorang Imam, dan seorang dari suku Lewi justru melewati begitu saja. Tidak ada pertolongan yang mereka berikan sebagai implementasi dari kasih. Kasih hanya dapat mereka ceritakan tanpa dapat dipraktekkan, kasih adalah pemanis khotbah mereka tetapi bukan dasar untuk menolong banyak orang.

MEMBAGIKAN (M4)
Mari jemaat Tuhan, implementasi kasih itu sederhana yaitu menolong orang lain atau saudara. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44)
Berbuat kebaikan bukan hanya tentang melakukan tindakan yang baik, tetapi juga hidup mencerminkan karakter Allah yang baik. Kebaikan melibatkan sikap yang mengasihi, murah hati, dan memberkati orang lain. Ini adalah sikap yang tercermin dalam hubungan kita dengan sesama dan dalam hubungan kita dengan Allah. 1 Petrus 3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

