Renungan firman

RABU -PAULUS MENEGUR PETRUS

29 November 2023

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : 2 Tim 3:16-17

14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”
Sebagai keluarga ketika kita menegur saudara kita, belajarlah untuk menegurnya terbatas kepada fakta dan data yang kita lihat dan ketahui, jangan melebar kemana-mana. Petrus melakukan kesalahan dan Paulus mengingatkannya terbatas pada kesalahan yang dilakukan pada saat itu. Memang Paulus menyebut kesalahan Petrus sebagai kemunafikan, jelas yang dipersoalkan adalah kelakuannya. Tetapi harus diingat juga, pertentangan mereka tidak sering, dan hanya terjadi dalam kasus ini. Kenapa ini terjadi dan dituliskan dalam Alkitab kita, inilah yang membuktikan “kejujuran Alkitab” (menurut saya), Tuhan ijinkan peristiwa ini dituliskan dalam Alkitab agar kita bisa menarik pembelajaran, bagaimana untuk bisa menyampaikan kesalahan serta menerima teguran dengan baik.
Paulus menegur Petrus, sekalipun mereka adalah sama-sama rasul, pelayan Tuhan dan secara rohani Petrus lebih senior dari Paulus. Tetapi untuk menyampaikan kebenaran tidak dibatasi dengan status tetapi harus tetap dengan kasih.


Petrus menyikapi teguran Paulus, tidak kita temukan respon yang negatif (misalnya marah, merasa dipermalukan atau mengatakan bahwa nama baiknya hancur), tidak dituliskan dia membela diri ditengah-tengah pertemuan pada saat itu. Menurut saya Petrus menerimanya dan dia pasti mengingat bagaimana dia dipanggil oleh Yesus, diteguhkan oleh peristiwa “ayam berkokok” dan apa yang disampaikan oleh Yesus kepadanya, “Gembalakanlah dombaKu”.
Sebagai keluarga Allah, terkadang untuk menegur atau ditegur akibat kesalahan yang kita lihat atau kita lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan kita tidak bisa menutup mulut atau kompromi terhadap kesalahan yang sudah prinsip. Kita butuh keberanian yang kudus untuk menegur, dan kita butuh sikap untuk menerima teguran itu dengan sikap yang benar. Teguran yang disampaikan oleh Paulus kepada Petrus, tidak membuat mereka bertengkar atau mengalami perpecahan dalam pelayanan mereka. Luar biasa Petrus tetap tegar menjadi Rasul memberitakan injil sampai akhirnya hidupnya.


Sebagai saudara yang benar, kita tidak boleh membiarkan saudara kita berlaku tidak jujur, kita harus menegurnya. Terkadang kita tidak berani menegur karena terlalu banyak pertimbangan. Ketika kita menegur, tegurlah dia sesuai dengan kenyataannya jangan melebar kemana-mana. Sebagai orang yang menerima teguran belajarlah untuk bisa menerimanya, kalau itu sesuai fakta, jangan berdebat/bertengkar atau menjadi rebut “jadinya muncul masalah yang baru akibat keributan”. Sebagai saudara di rumah Tuhan teguran bukan untuk mempermalukan atau menunjukkan kehebatan, menonjokan status tetapi seperti apa yang disampaikan dalam 2 Tim 3:16-17 ”16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran : 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4