KAMIS – SOPAN SANTUN DANIEL

16 Mei 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Daniel 1:9-13

_“Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.”_ *(Daniel 1:12-13)*

Jika kita amati dengan cermat tentang kisah Daniel, memang ada banyak hal yang dapat kita pelajari. Tetapi satu hal yang sering luput dari pengamatan dan perenungan kita adalah tentang _kepribadian Daniel_. Dalam kisah Daniel pada masa awal berada di istana babel, kita dapat melihat: *ketegasan, keberanian, dan pendirian Daniel*. Sosok Daniel adalah teladan nyata bagaimana ia berpegang pada prinsip walaupun hidup di tengah masyarakat penyembah berhala. Alkitab mengatakan pada kita bahwa Daniel _“berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya”_  dengan makanan dan minuman yang dinyatakan terlarang oleh Allah bagi orang Yahudi, sehingga ia meminta agar para penawannya itu memberinya menu yang lain *(Daniel 1:8)*.

Satu hal yang baru saya sadari ketika membaca ulang kisah ini adalah: _Daniel tidak bersikap sambil menyilangkan tangan, membusungkan dada, berdebat dan menolak untuk makan dengan tidak sopan, tetapi ia meminta izin untuk mendapatkan menu yang lain_. Tatkala sang pegawai istana menolak,  Daniel _tidak berputus asa dan ia mengajukan permintaan itu dengan sopan_ kepada orang lain: _“Adakanlah percobaan dengan hamba-hamba-mu ini selama sepuluh hari”_ (ayat 12).

Kita dapat belajar dari kepribadian Daniel, _berdiri dengan teguh bagi Allah dengan cara meminta izin dengan sopan dan tidak menuntut._ Tak ada sedikit pun *kecongkakan dalam perilakunya*. *Kelemahlembutan dan sopan santun* harus menjadi ciri kesaksian kita kepada dunia yang belum percaya.  Kita tidak bermaksud mengkompromikan komitmen kita kepada Kristus, tetapi kita harus selalu siap sedia menjawab setiap orang yang bertanya tentang pengharapan (iman) yang kita miliki. Oleh karena itu, _kesaksian kita bagi Kristus harus dihidupi dan diucapkan dengan berani_, tetapi disertai dengan *kelemahlembutan dan kesopanan*. Apabila Saudara dalam hari-hari ini sedang dituntut untuk memegang pendirian iman Anda, teladanilah keberanian dan kesopan-santunan Daniel.

*“Sopan Santun Juga Diperlukan Dalam Mempersaksikan Dan Mempertahankan Iman”* *Amsal 10:20* _“Lidah orang benar  seperti perak pilihan…”_ kesopanan berkata-kata mendatangkan berkat bagi orang lain/musuh sekalipun.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo