17 September 2021
Penerbit : Dept. Pengajaran GKKD Bogor
Ibrani 12:28
Kata “ibadah” dalam Ibrani 12:28 adalah berasal dari kata ‘latreia atau latreuo’ (lat-ryoo’-o), leitourgia yang artinya adalah “menyembah” (Allah), dengan sikap tunduk, mencium tangan tanda hormat dan kasih; yang dalam ibadah yang sejati dapat diartikan sebagai tindakan memberikan penyembahan, pelayanan, berbakti kepada Allah dengan sikap hati hormat, takut, tunduk dan taat karena mengasihi Allah.
MENEMUKAN (M1):
~ Ibrani 12:28, TB Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.

Pertanyaan:
- Kerajaan seperti apakah yang kita terima, sehingga kita harus mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut?
- Sebutkan 2 (dua) cara mengucap syukur dan beribadah yang berkenan kepada Allah.
MERENUNGKAN (M2)
Kita telah menerima Kerajaan yang tidak tergoncangkan, menerima Kerajaan Pemerintahan Allah yang sangat berdaulat, berkuasa mutlak, yang kekal, tak tergoyahkan, tidak bisa digulingkan dan yang berkuasa atas segala sesuatu. Karena itu, kita patut bersyukur karena anugerah pilihan Tuhan, kita telah dilayakkan untuk tinggal di dalam Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan, tempat yang paling aman dalam kuasa perlindungan dan pemeliharaan Tuhan.
Dan karena Tuhan adalah api yang menghanguskan (Ibr 12:29) maka selayaknya kitapun haruslah beribadah dalam sikap hormat dan takut akan Tuhan; takluk dan tunduk di bawah pemerintahan Tuhan, teruji dalam ketaatan untuk mengisi hidup dan melakukan kebenaran firman Tuhan, dan menjaga agar memiliki pikiran yang kudus, tulus dan benar; tidak mengeluarkan perkataan kotor dan tidak jujur, tidak tinggal dalam perbuatan dosa, dan selalu menjaga motivasi hati agar selalu tulus dan murni dalam melakukan setiap ibadah dan pelayanan, dan komit untuk selalu memberi kemuliaan hanya bagi Tuhan.

MELAKUKAN (M3)
Jika bukan karena kasih Karunia Allah, secara manusia kita tidak akan bisa beribadah menurut cara yang benar dan berkenan kepada Allah; sebab segala kesalehan kita adalah seperti seorang najis, seperti kain kotor, yang menjadi layu seperti daun dan yang lenyap oleh kejahatan” (Yes 64:5-6).
Dalam melakukan tanggung jawab menjaga pikiran, motivasi, perkataan dan perbuatan kita sebagai orang-orang yang beribadah kepada Allah, hal-hal apakah yang masih perlu saudara tambahkan agar semakin berkenan kepada Allah.
MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakanlah pengalaman saudara saat beribadah dalam prinsip Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

