19 September 2021
Dept. Pengajaran GKKD Bogor
Mazmur 63:1-3, TB
Ada macam 2 pandangan mengenai hal ‘mengalami Tuhan’; Yang Pertama, Kekristenan yang tidak mengalami pengalaman rohani secara dalam, dan kebanyakan hanya membahas tentang konsep keyakinan, doktrin, atau urusan sikap, perilaku, dsb. Yang Kedua, Kekristenan yang selalu membicarakan pengalaman2 rohani yang dialami, pengalaman supra alami, merasa diberkati, merasakan pertolongan tangan Tuhan, atau setiap hari mengalami Tuhan dan Rhema Firman Tuhan.
Dari kedua hal diatas, hal apa sebenarnya yang seharusnya, yang Alkitabiah dan yang sejati untuk kita alami sebagai umat Tuhan?
MENEMUKAN (M1)
Mazmur 63:1-3, TB Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.
Pertanyaan:
- Seperti apakah kerinduan Daud ketika ia di padang gurun Yehuda?
- Apakah yang Daud lakukan pada saat mencari Tuhan, haus dan rindu kepada Allah?

MERENUNGKAN (M2)
Ketika Daud sedang berada dalam pelarian di padang gurun Yehuda, Daud menyatakan bahwa Allah adalah Allahnya, ia mencari Allah, haus dan rindu kepada Allah seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair, bukan karena Daud tidak mengenal dan memiliki Allah dalam hidupnya, tetapi ia sedang dalam keadaan Spiritual Appetite, mengalami keadaan rasa lapar dan haus, kosong, merasa tidak memiliki sesuatu jika tidak bersama Tuhan, Daud merasakan rasa haus dan kurang, ”bukan karena suatu keinginan,” tetapi karena dorongan atau hasrat yang datang seperti orang yang “kebelet,” bukan karena menginginkannya tetapi “harus,” dan tidak bisa ditahan; MERASA kosong, tidak tertahankan jika jauh dari Tuhan, bukan karena belum menemukan Allah, tetapi didorong oleh hasrat akan Allah, selalu ingin bersama Allah, tak ingin berpisah 1 detik pun, bahkan merasa tidak berdaya atau tak berarti jika tidak bersama-sama dengan Tuhan 24 Jam di setiap waktu; BAHKAN terus semakin lapar dan semakin haus karena pengalaman bersama Allah, sungguh sangat indah, mulia, agung tak terkatakan, dan tidak bisa tergantikan oleh hal apapun yang dari dunia.
MELAKUKAN (M3)
Pengalaman rohani sejati sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam hidup kita adalah merasakan Spiritual Appetite merasa kosong, haus dan lapar yang tidak tertahankan rindu, ingin akan Tuhan. Tetapi seperti pada waktu lapar secara umumnya, seringkali pada waktu lapar orang paling mudah memilih makanan2 instan, cepat saji atau snack yang hanya memberi rasa “kenyang palsu,” seperti halnya waktu orang lapar secara rohani tetapi malah memberi makan rohaninya dengan yang bukan makanan utama yaitu keintiman dengan Tuhan, menggantinya dengan “Pengetahuan Firman, aktivitas rohani, atau sosial” tahu Firman dan kebenaran Tuhan, tetapi tidak mengubahkan hidupnya, dan bahkan tidak merasakan kehausan dan kelaparan sejati yang tidak tertahankan akan Tuhan, merasa sudah waktunya “makan,” butuh terobosan rohani, tetapi sudah tidak punya hasrat lagi untuk “makan”, karena merasa telah kenyang dalam pikiran dan perasaannya.

Kerusakan “spiritual appetite” atau kehilangan rasa haus dan lapar akan Tuhan akan terjadi pada saat kita: 1. Kehilangan Kasih yang Semula (waktu lahir baru); 2.Terhimpit oleh masalah/kesulitan hidup (Kompromi dan kalah terhadap dosa dan tantangan dunia); dan 3. Terpuaskan oleh Kasih yang Salah (terjebak dengan aktivitas/rutinitas atau kenikmatan dunia).
Dari hal diatas, mari identifikasi dalam hal apakah saudara perlu berbalik dan harus berubah, agar selalu mengalami Ibadah sejati, mengalami rasa haus lapar dan kerinduan yang tak tertahankan akan Tuhan?
MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakanlah pengalaman saudara agar senantiasa mengalami Ibadah sejati, mengalami rasa haus, lapar dan kerinduan yang tak tertahankan akan Tuhan.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

