KAMIS – ANAK-ANAK ALLAH YANG MAHATINGGI

21 Oktober 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor

A. PENGANTAR

Bapa di Surga, Allah Yang Mahatinggi yang merupakan Pribadi tertinggi di alam semesta ini bukan hanya memberi kita kesempatan untuk bisa bersekutu dengan Dia selama kita hidup dibumi tapi juga kita diberi kesempatan untuk bisa menjadi anak-anakNya. Melalui PutraNya yang tunggal Tuhan kita Yesus Kristus, kita bisa memiliki kesempatan itu (Yohanes 1:12). Barangsiapa percaya kepada Tuhan Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah.
Namun kita tidak boleh berhenti hanya sampai dengan percaya dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat saja. Karena arti kata percaya (Yunani : pisteuo) termuat juga arti berkomitmen kepada yang dipercayai. Sedangkan arti komitmen menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Jadi ketika kita mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat hidup kita, kita sedang berkomitmen kepada Dia yang kita percayai untuk kita melakukan apa yang Dia juga lakukan. Melakukan apa yang Dia katakan (Lukas 6:46).
Hal ini sejalan juga dengan perkataan Yesus di dalam Lukas 6:35 bahwa untuk menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi kita harus memiliki sifat seperti Allah. Kata anak didalam Lukas 6:35 dan Yohanes 1:12 menggunakan kata yang sama yaitu huios yang artinya bukan hanya putra tapi juga
“mereka yang dalam karakter dan kehidupan menyerupai Tuhan”.
Ini berarti setiap orang percaya harus terus bertumbuh dari hari demi hari seumur hidupnya untuk bisa memiliki karakter dan kehidupan yang menyerupai Tuhan sendiri. Jika seseorang tidak bertumbuh, berarti dia tidak berkomitmen. Jika dia tidak berkomitmen berarti sebenarnya dia tidak benar-benar percaya.
Untuk bisa komit, seseorang harus memiliki tekad baja. Karena itu kita harus memiliki tekad baja untuk terus bertumbuh dalam karakter dan kehidupan yang menyerupai Tuhan.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Lukas 6:27-38. Temukan sikap apa yang Tuhan mau untuk kita miliki dan kembangkan agar kita bisa menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Inti dari bacaan kita di Lukas 6:27-38 adalah apa yang Allah Bapa lakukan kepada semua orang entah orang itu baik atau jahat, entah orang itu tahu berterimakasih atau tidak, itulah yang Bapa ingin untuk kita lakukan juga. Juga ketika kita melakukan suatu kebaikan, kita melakukannya dengan tidak pamrih alias tidak mengharapkan orang untuk membalasnya. Tentu ini bukan perkara yang mudah dan bisa terjadi dalam semalam. Pasti memerlukan praktek yang konsisten dan bisa saja “kesakitan-kesakitan” yang konsisten pula. Tapi tidak ada pilihan lain, jika kita mau menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi maka kita harus melakukan apa yang Bapa mau untuk kita lakukan.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Fokus hidup orang percaya haruslah ini, yaitu bagaimana agar dia bisa semakin memiliki karakter dan kehidupan yang menyerupai Tuhan. Karena itu kita harus konsisten memeriksa diri kita setiap hari dihadapanNya agar kita bisa mengerti dan cepat memperbaiki jika ada hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya. Apalagi kita sudah terbiasa dari sejak kita kecil hidup dengan nilai-nilai yang seringkali tidak tepat dimata Tuhan. Karena itu bukan perkara yang mudah untuk kita bisa memiliki karakter dan kehidupan yang menyerupai Tuhan. Tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Dengan pertolonganNya dan tekad baja yang kita miliki, hal itu bukan sesuatu tidak dapat kita raih. Tidak mungkin Tuhan memberi perintah yang tidak bisa kita lakukan.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Mari saling menguatkan dengan saudara seiman untuk tetap terus berjuang memiliki karakter dan kehidupan yang menyerupai Tuhan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47