JUMAT- HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH

25 Februari 2022

Penulis : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Yohanes 17:21

A. PENGANTAR

Beberapa hari lalu kita sudah belajar bahwa Kesatuan diantara murid-murid atau umat Tuhan adalah tanda dari kehadiran-Nya. Bahwa Kesatuan adalah doa khusus Yesus menjelang akhir pelayanan-Nya di bumi (Yohanes 17:20-26) yang menunjukkan hal ini adalah sesuatu yang sangat penting. Sebagai satu tubuh Kristus dengan banyak anggota, kita bisa memberi dampak yang signifikan hanya jika kita bersatu menjadi satu kesatuan.

Jika kita membaca Yohanes 17:20-26, kita bisa dapati bahwa ada 3 jenis hubungan yang berperan dalam membetuk kesatuan yang Yesus maksud. Yang pertama adalah hubungan kita dengan Allah. Yang kedua adalah hubungan kita dengan sesama. Dan yang ketiga adalah hubungan kita dengan dunia. Hari ini kita belajar mengenai hubungan kita dengan Allah.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Yohanes 17:21
“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
Apa yang bisa kita temukan disini? Bapa di dalam Yesus, Yesus di dalam Bapa, dan kita murid–murid di dalam MEREKA. Dalam terjemahan lain dikatakan sama seperti Yesus sehati dan sepikiran dengan Bapa demikianlah juga Yesus menghendaki kita sehati dan sepikiran dengan Dia.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Kesatuan dengan Allah berarti satu kesatuan roh. Kesatuan sejati, terjadi pada tingkat yang terdalam dari roh. Kesatuan ditingkat roh berarti melibatkan komunikasi batiniah yang paling dalam. Ingat manusia terdiri dari 3 unsur : roh, jiwa, dan tubuh. Kesatuan yang sejati dengan Allah bukan hanya ditingkat jiwa dimana pikiran, perasaan dan kehendak ada sehingga kesatuan dengan Allah tidak cukup hanya mengerti dan memiliki pengetahuan tentang Allah. Kesatuan dengan Allah juga tidak cukup hanya ditingkat jasmani dimana kita bisa merasakan hal-hal secara fisik seperti bulu kuduk merinding, mengalami kesembuhan fisik, menangis, tertawa, dsb. Melainkan kesatuan harus sampai pada ditingkat roh dimana kita memiliki persekutuan batiniah dengan Yesus. “Aku didalam mereka, dan mereka didalam Aku”.
Jika kita menjadi satu dengan Allah, kita akan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang Dia dan tentu saja kita akan tahu dan memiliki pikiran Allah (1 Korintus 2:16). Jika kita memiliki pikiran Allah, kita akan memahami cara Dia berpikir dan bertindak. Jika kita tidak memiliki pikiran Allah bagaimana kita dapat berdoa dalam cara yang sesuai dengan kehendak dan hatiNya?jika doa kita tidak harmonis dengan hati dan pikiranNya, bagaimana Ia bersedia untuk menjawab?
Yesus pernah mengatakan jika kita melihat Dia maka kita juga melihat Bapa. Juga Yesus mengatakan apa yang Dia lakukan adalah apa yang Bapa juga lakukan. Inilah makna menjadi satu. Apa yang dilakukan salah satunya adalah mewakili keduanya. Kehendak, pikiran, dan tindakan Yesus dan Bapa berjalan beriringan mengarah kepada titik yang sama. Hanya ketika kita sudah menyatu dengan Allah maka kita juga bisa menyatu dengan yang lainnya.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Seperti Yesus dan Bapa menjadi satu, demikianlah juga kita harusnya menjadi satu dengan Allah. Apa yang kita pikirkan, inginkan dan lakukan seharusnya mewakili apa yang Allah juga pikirkan, inginkan dan lakukan. Jadi apakah yang kita lakukan hari ini baik itu kegiatan gereja atau bukan, apakah sudah mewakili pikiran, kehendak dan tindakan Allah atau mewakili diri kita sendiri? Kita harus selalu tanyakan hal ini kepada diri kita.

Bagaimana kita bisa sehati dan sepikiran dengan Allah bila kita tidak pernah berkomunikasi denganNya? Mungkin kita berkomunikasi denganNya tapi hanya disaat-saat tertentu seperti saat ibadah minggu, dan lebih buruknya lagi hanya ketika kita membutuhkan pertolongan dimana komunikasi kita sebagian besar diisi dengan keluhan dan permintaan. Kita sulit sekali untuk memberikan waktu khusus untuk bisa berkomunikasi denganNya. Selama kita tidak bisa membuat kemajuan dalam hal ini, maka komunikasi batiniah kita dengan Allah tidak akan pernah ada kemajuan yang signifikan. Tidak heran, banyak orang Kristen yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen tapi sulit sekali untuk bisa bekerja sama, sulit sekali untuk menyatu dengan yang lainnya, dan sulit sekali untuk diubah karakternya. Semua itu karena orang-orang tidak benar-benar memililki persekutuan yang harmonis dengan Allah. Hari ini mari kita introspeksi diri kita, apakah kita sudah memiliki kesatuan dengan Allah seperti yang Yesus maksudkan? Mari kita terus belajar untuk membuat kemajuan dalam hubungan kita dengan Dia. Jangan menyerah, terus miliki tekad dan melakukannya karena Tuhan pasti menolong.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Ceritakan dan diskusikan dengan rekan/anggota komsel bahwa kita harus menyatu dengan Allah terlebih dahulu agar kita bisa menyatu dengan sesama.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47